Untuk GAR-ITB, Ini yang Ngomong Guru Besar Sejarah loh yah…

Prof Dr H Azyumardi Azra, MA dari UIN Syarif Hidayatullah merupakan ahli sejarah Islam dan akademisi Indonesia yang menjadi sumber informasi dalam film seri Ulama Nusantara
Prof Dr H Azyumardi Azra

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kecaman tak henti-hentinya ditujukan kepada Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institute Teknologi Bandung (GAR- ITB).

Pasalnya, GAR-ITB melaporkan Din Syamsuddin ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) atas tuduhan radikal.

Laporan dan tudingan yang dibuat GAR-ITB itu merupakan sebuah hal yang aneh dan mengada-ada.

Demikian disampaikan Gurubesar Sejarah, Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof Azyumardi Azra dalam keterangannya, Jumat (12/2/2021).


“(Pelaporan) adalah absurd, tidak masuk akal jika Prof Din Syamsuddin dilaporkan sebagai radikal, jelas mengada-ada,” tegasnya dilansir dari RMOL (jaringan PojokSatu.id).

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menyatakan, Din Syamsuddin adalah salah satu gurubesar terkemuka di kampus UIN Jakarta.

Mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu juga telah memberikan banyak kontribusi, baik kepada UIN Jakarta, Muhammadiyah, maupun negara dan bangsa Indonesia.

“Dengan mensosialisasikan pentingnya dialog dan perdamaian untuk membangun peradaban dunia yang lebih adil,” tuturnya.

Selain itu, Din Syamsuddin juga pernah menjadi Utusan Khusus Presiden (Jokowi) untuk Dialog dan Kerjasama antar-Peradaban.

Juga melaksanakan Konsultasi Tingkat Tinggi (2019) di Bogor untuk konsolidasi dan penyebaran Wasathiyah Islam.

Dengan Wasathiyah Islam yang menjadi karakter Islam Indonesia ke dunia global, Islam dapat terwujud sebagai rahmatan lil ‘alamin—Islam yang damai yang kontributif untuk kemajuan peradaban.

Karena itu, ia menyarankan GAR-ITB agar menarik laporannya.

Sebab, dirinya yang pernah satu angkata dengan Din di IAIN Jakarta (1976), mengetahui betul kiprah Din Syamsuddin.

“Jika ada konflik kepentingan terkait dengan posisi Din Syamsuddin sebagai anggota MWA ITB sebaiknya diselesaikan secara baik-baik di lingkungan almamater-sivitas akademika dengan semangat perguruan tinggi yang berdasarkan objektivitas dan kolegialitas,” tegasnya.

Menurutnya, sikap kritis Din Syamsuddin kepada pemerintahan Presiden Jokowi tidak semestinya disikapi lingkungan perguruan tinggi secara kontraproduktif dan divisif.

“Kelompok yang mengatasnamakan sebagai kelompok alumni sepatutnya menempuh cara-cara yang tidak menimbulkan perpecahan dan konflik dalam masyarakat,” sesalnya.

Menurut Prof Azra, pimpinan KASN dan Kementerian Agama hendaknya dapat menilai masalah ini secara objektif dan adil.

“Dengan begitu dapat diciptakan suasana kepegawaian yang lebih kondusif terkait isyu sosial-politik,” tandasnya.

(rmol/pojoksatu)