Novel Baswedan Sebut Aneh Pelaporannya ke Polisi, Politisi Demokrat: Itu Biasa Saja

Novel Baswedan

POJOKSATU.id, JAKARTA— Politisi Partai Demokrat Benny K Harman menyoroti kasus pelaporan penyidik senior KPK Novel Baswedan ke Bareskrim Polri terkait komentar atas meninggalnya Ustadz Maaher.

Menurut Benny K Harman, pelaporan Novel Baswedan oleh DPP Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Mitra Kamtibnas (PPMK) itu, adalah hal yang biasa.

Demikian disampaikan Anggota Komisi III DPR RI itu saat dihubungi Pojoksatu.id di Jakarta, Jumat (12/2/2021).

Anak buah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini mengatakan bahwa pelaporan tersebut tinggal dinilai apakah ada unsur pidana atau tidak.


“Kalau laporkan bisa saja, siapa saja. Tinggal dinilai apakah memang ada dasar dan sesuai dengan aturan hukum atau tidak. Tentu ditentukan oleh polisi,” jelas Benny.

Untuk diketahui, Novel Baswedan dilaporkan ke polisi pada Kamis (11/2) siang kemarin oleh DPP DPP Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Mitra Kamtibnas (PPMK) karena cuitannya di akun Twitternya.

Dalam cuitannya, Novel Baswedan mempertanyakan soal kondisi Maaher yang tetap ditahan polisi padahal tengah dalam kondisi sakit.

Novel Baswedan pun meminta kepada pihak kepolisian untuk tidak keterlaluan.

Atas dasar itulah, Novel Baswedan dilaporkan ke polisi atas komentar meninggalnya Ustad Maaher At-Thuwailibi di Rutan Mabes Polri.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP PPMK Joko Priyoski, pihaknya menduga Novel melanggar Pasal 14 dan 15 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945.

“Cuitan Novel itu memprovokasi publik dengan ujaran hoaks dan provokasi,” ujarnya saat dihubungi wartawan, Kamis (11/2).

Sementara itu, Novel sendiri mengaku memiliki alasan tersendiri dalam pernyataannya terkait meninggalnya Ustad Maaher At-Thuawalibi.

Cuitan melalui akun Twitter pribadinya, @nazaqistsha, pada Selasa (9/2) lalu itu dilatari hatinya yang tergugah.

“Apa yang saya sampaikan itu adalah bentuk kepedulian terhadap rasa kemanusiaan,” kata Novel dihubungi wartawan, Kamis (11/2/2021).

Mantan anggota Polri ini juga menyebut, sebelumnya tidak pernah ada tersangka kasus penghinaan yang meninggal dalam rutan.

“Hampir tidak pernah kita dengar ada tahanan kasus penghinaan meninggal di dalam ruang tahanan,” jelasnya.

Karena itu, Novel menilai bahwa ada masalah dalam peristiwa ini.

“Jadi ini ada masalah, bukan hal wajar (polisi) menahan orang yang sakit,” ujar Novel.

Oleh karena itu Novel merasa aneh ketika ada ormas melaporkannya ke polisi.

“Justru ketika pernyataan yang demikian penting tersebut dilaporkan, itu yang aneh,” kata dia.

 

(muf/pojoksatu)