Kronologis Lengkap Ustaz Maaher, dari Mulai Dilaporkan sampai Meninggal Dunia, Jelas Sudah…

Karopenmas Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono. Foto Humas Polri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Meninggalnya Soni Ernata alias Ustaz Maaher At-Thuwailibi di Rutan Bareskrim Polri masih menyisakan pertanya bagi sebagian pihak.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengurai kronologis Maaher dari sejak ditahan sampai akhirnya meninggal dunia.

Maaher, sebelumnya dilaporkan seorang warga dengan nomor laporan LP/0677/XI/2020/Bareskrim atas kasus ujaran kebencian terhadap Habib Lutfhi Bin Yahya.

Usai adanya LP tersebut, pada 4 Desember tim Siber Bareskrim menciduk di kediamannya.


Hal itu langsung disusul dengan penahanan terhadap Maaher di Rutan Bareskrim.

“Dalam proses penahanan, pada 20 Januari 2021 yang bersangkutan sakit,” ungkap Rusdi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (10/2/2021).

Oleh penyidik, sambung Rusdi, Maaher kemudian dibawa ke RS Polri Kramatjati untuk mendapat perawatan medis.

Usai dirawat selama satu minggu, pada 27 Januari 2021, kondisi Maaher dinyatakan membaik oleh dokter.

Ia kemudan dikembalikan lagi ke Rutan Bareskrim untuk melanjutkan penahanan.

Kemudian pada tanggal 4 Februari 2021, berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan.

Dan oleh Polri kemudian langsung dilakukan pelimpahan tahan II tersangka berikut dengan barang bukti.

Pihak kejaksaan, setelah dilakukan pelimpahan tahap II, memutuskan agar Maaher tetap ditahan di Rutan Bareskrim.

Lalu pada tanggal 6 Februari atau dua hari sebelum Maaher dinyatakan meninggal dunia, ia kembali mengeluh sakit.

Oleh dokter disarankan agar kembali dirawat di RS Polri.

Tapi, saran dokter Polri malah ditolak oleh Maaher yang memaksa tetap berada di Rutan Bareskrim Polri.

Rusdi memastikan, pelayanan kesehatan terhadap seluruh tersangka ini sudah dipenuhi dengan baik oleh Polri.

“Karena pada tahanan Bareskrim Polri ditempatkan satu dokter yang senantiasa setiap hari memeriksa kesehatan seluruh tahanan yang ada pada Rutan Bareskrim Polri,” tegasnya.

Karena itu, Rusdi meminta publik agar tidak berspekulasi tentang penyebab meninggalnya Maaher.

Pasalnya, pihak keluarga pun sudah mengetahui penyakit yang diderita Maaher memang sangat sansitif sampai akhirnya meninggal dunia.

Karena sangat sensitif, maka diputuskan bahwa tidak dipublikasikan agar tidak merusak nama baik keluarga.

“Bahwa penyakit yang diderita saudara Soni (Ustaz Maaher) itu diketahui oleh keluarga,” kata Rusdi.

Bahkan, pihak keluarga juga sudah menandatangani surat pernyataan terkait riwayat medis Ustaz Maaher.

“Dengan adanya surat pernyataan dari keluarga bahwa keluarga mengetahui penyakit yang diderita oleh Soni yang ditandatangani oleh istri almarhum,” bebernya.

Karena itu pihaknya meminta masyarakat tak lagi berspekulasi soal penyebab meninggalnya Ustaz Maaher.

“Itu diketahui oleh keluarga dan dapat dijelaskan bahwa meninggalnya almarhum murni disebabkan oleh sakit,” terangnya.

Selain itu, Mabes Polri juga mengingatkan agar masyarakat tidak ikut-ikutan menyebarkan kabar hoax meninggalnya Maaher..

Pasalnya, bagi mereka yang menyebarkan kabar hoax tersebut bisa dikenakan pidana.

“Jangan menyebarkan berita bohong, karena merupakan tindak pidana,” ingat Rusdi.

Rusdi pun kembali menegaskan bahwa Maaher meninggal karena menderita sakit.

Akan tetapi, pihaknya memang sengaja tak membeberkan sakit yang diderita Maaher.

Alasannya, hal itu bisa merusak nama baik keluarga Maaher.

Untuk itu, Rusdi mengimbau agar masyarakat bisa bijak menelaah informasi yang diterima, terutama dari media sosial, agar tidak termakan hoax.

“Jika ada keraguan, bisa bertanya kepada pihak yang berkompeten,” tandasnya.

(ruh/pojokastu)