Polri Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Teroris ke Rekening FPI, Munarman kok Gak Mau Jawab?

Mantan Sekretaris Umum FPI Munarman. Foto JPNN

POJOKSATU.id, JAKARTA – Gelar pekara 92 rekening Front Pembela Islam (FPI) sudah dilakukan penyidik Bareskrim Polri bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan menggandeng Densus 88 Antiteror.


Hal itu berangkat dari temuan awal PPATK yang mendapati adanya transaksi lintas negara.

Kekinian, penyidik Bareskrim Polri menemukan fakta baru dari rekening FPI yang diblokir pemerintah itu.

Yakni diduga adanya aliran dana di rekening FPI dari warga negara Inggris yang bersuamikan WNI bernama Asep Ahmad Setiawan alias Abu Ahmad.


Abu Ahmad sendiri merupakan anggota teroris Jamaah Islamiyah yang telah meninggal dunia pada 2014 silam setelah ikut bertempur di Suriah.

Menanggapi hal itu, eks Sekretaris Umum FPI Munarman tak mau berkomentar.

Pun saat ditanya terkait temuan penyidik soal adanya dugaan keterkaitan transaksi rekening FPI dengan kegiatan terorisme.

“Suka-suka mereka lah (soal aliran dana dari terduga teroris),” jawabnya singkat Munarman dihubungi PojokSatu.id, Kamis (4/2/2021).

Sebelumnya, Mabes Polri mengamankan seorang perempuan warga negara Inggris, Tanzeen Miriam Sailar.

“Dia merupakan istri dari warga negara Indonesia atas nama Asep Ahmad Setiawan alias Abu Ahmad yang merupakan anggota jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI),” ungkap Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/2).

“Asep Ahmad Setiawan alias Abu Ahmad telah meninggal dunia pada tahun 2014. Abu Ahmad merupakan salah satu anggota dari jaringan teroris JI,” ujarnya.

Selain diduga berkaitan dengan jaringan teroris, Tanzeen juga diperiksa karena ada hubungan dengan aliran dana di rekening Front Pembela Islam (FPI) serta afiliasinya.

“Terkait dengan PPATK ini kan ada 92 rekening (FPI dan afiliasinya) tentunya proses itu masih dianalisis. Ada kaitannya dengan istri dari seorang anggota teroris tadi. Itu salah satunya ya,” beber dia.

Saat ini, sambungnya, penyidik masih mendalami hasil analisis dari PPATK terkait rekening FPI apakah memenuhi unsur-unsur pidana atau tidak.

Kendati demikian, Ramadhan mengaku masih belum bisa membeberkan hasil analisis dimaksud.

Pasalnya, ada 92 rekening yang harus diperiksa satu per satu berdasarkan hasil analisis PPATK.

“Pastinya penyidik akan mendalami, mendalami itu kan satu per satu. Didalami apa keterlibatan pengiriman (uang) di rekening itu,” jelasnya.

(fir/pojoksatu)