Ternyata Ini Tujuan Zaim Saidi Bikin Pasar Muamalah Depok, Anda Semua Gak Sadar Sudah Kena Prank!

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan. Foto Humas Polri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Bareskrim Polri akhirnya menangkap penggagas sekaligus pendiri pasar muamalah di Depok, Jawa Barat, Zaim Saidi.


Penangkapan terhadap Zaim Saidi itu dilakukan lantaran keberadaan pasar muamalah sudah sangat meresahkan.

Pasalnya, pasar itu sama sekali tidak menggunakan Rupiah sebagai alat tukar, melainkan dinar dan dirham.

Pasar muamalah di Depok itu didirikan di atas lahan pribadi milik Zaim Saidi.


Zaim Saidi beralasan, membentuk pasar muamalah untuk menampung masyarakat atau komunitas yang ingin berdagang dengan aturan yang mengikuti pasar di zaman nabi.

Demikian disampaikan Kabag Penum Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, kepada wartawan di Mabes Polri, Rabu (3/2/2021).

“Seperti adanya pungutan sewa tempat dan transaksi jual-beli dengan menggunakan dirham dan dinar,” terang Ahmad.

Berdasarkan penyelidikan, terdapat 10-15 pedagang di pasar muamalah Depok dan menyediakan sembako, makanan dan minuman, hingga pakaian.

Aturan main pasar muamalah, sama sekali tidak menggunakan Rupiah. Melainkan dinar dan dirham.

Sebagai penentu harga beli dinar dan dirham yang digunakan di pasar muamalah, tidak lain adalah Zaim Saidi sendiri.

“Tersangka juga menentukan harga beli koin dinar dan dirham sesuai PT Aneka Tambang, ditambah 2,5 persen sebagai marjin keuntungan,” bebernya.

Ahmad juga mengungkap, selain sebagai inisiator dan penyedia lapak, Zaim Saidi juga sekaligus pengelola dan wakala induk tempat induk untuk menukarkan dinar dan dirham untuk digunakan di pasar muamalah.

“Keberadaan pasar di Tanah Baru, Depok yang dijadikan sebagai tempat perdagangan atau bazar telah dilakukan sejak tahun 2014,” tambahnya.

Sementara, untuk menghindari kecurigaan aparat dan petugas, pengelola mensiasati dengan tidak beroperasi setiap hari.

“Digelar dua minggu sekali. Dari jam 10.00 sampai jam 12.00 WIB,” ujar Ahmad.

Atas perbuatannya, Zaim Saidi dijerat Pasal 9 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Hukum Pidana dan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

“Dia terancam hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp200 juta,” tandasnya.

(ruh/pojoksatu)