Duh…Staf Kepresidenan aja Bilang Gini soal Ambroncius Nababan, Ya udah Kalo Gitu

Ambroncius Nababan memenuhi panggilan pernyidik Bareskrim Polri, Senin (25/1/2021) malam. Foto net

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi bernada rasis dan ujaran kebencian Ambroncius Nababan terhadap Natalius Pigai menuai kecaman dari banyak pihak.

Bahkan terbaru, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pun ikut angkat bicara.

KSP menegaskan, segala bentuk diskriminasi, baik yang bersifat ujaran dan tindakan, tidak akan mendapatkan tempat di negeri ini.

Demikian disampaikan Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani, dalam keterangannya, dilansir dari Antara, Selasa (26/1/2021).


“Setiap perbedaan pandangan atas suatu masalah tidak dibenarkan menggunakan respon yang diskriminatif,” kata Jaleswari.

Tindakan diskriminatif itu, jelas bertentangan dengan aturan, khususnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Selain itu, Jaleswari menyatakan, unggahan Ambroncius Nababan itu tidak mencerminkan prinsip kebinekaan Indonesia.

Yang menghargai perbedaan berdasarkan ras, suku, etnis, agama, gender dan disabilitas serta pluralitas dan multikultural sebagai jati diri bangsa.

Terlebih, konstitusi Indonesia menjamin kebinekaan tersebut dan diturunkan dalam berbagai instrumen hukum, seperti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Karena itu, pihaknya meminta kepolisian menindak tegas kasus tersebut.

 

“Polri sebagai aparat penegak hukum jangan ragu untuk melakukan penegakan hukum terhadap kasus ini secara cepat dan tegas,” tegasnya.

Berdasarkan aturan, menunjukkan kebencian kepada orang karena perbedaan ras dan etnis dengan membuat tulisan atau gambar, sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan diskriminasi.

Terlebih jika kemudian itu disebarluaskan di ranah publik yang dapat dilihat atau dibaca orang lain.

Terakhir, pihaknya juga mengingatkan bahwa tidak ada toleransi kepada siapapun yang bertindak diskriminatif atas dasar apapun, termasuk ras dan etnis.

“Ini adalah peringatan keras bagi perseorangan ataupun kelompok untuk tidak bermain api dengan SARA,” tegasnya lagi.

“Karena pemerintah tanpa ragu akan menindak keras dan tegas segala bentuk tindakan yang dapat mengancam persatuan negara dan bangsa,” pungkas Jaleswari.

Sebelumnya, kepada wartawan, Ambroncius mengakui bahwa unggahan itu dibuat sendiri olehnya.

“Iya, saya yang posting, benar. Saya akui itu postingan saya,” kata Ambroncius saat memenuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri, Senin (25/1) malam.

Akan tetapi, ia membantah bahwa meme Natalius Pigai itu dibuat oleh dirinya melainkan didapat dari media sosial orang lain.

Selain itu, meme serupa juga sudah banyak beredar di media sosial.

“Gambar itu saya copas. Saya ketemu ada (akun) Fatimah rupanya. Itu dia posting juga tapi tidak dibilang dia rasisme dan saya cari yang lain-lain, banyak juga rupanya,” sambungnya.

 

“Tapi tidak pernah dikatakan orang itu (pengunggah sebelumnya) rasis. Tapi kenapa saya yang copas, orang punya saya dibilang rasis,” sambungnya.

Ambroncius menyatakan, tindakannya itu untuk membalas pernyataan Natalius Pigai yang menolak Vaksin Covid-19 yang memang menjadi hak setiap orang.

Akan tetapi, ia menilai narasi yang dibangun Natalius Pigai itu bernada provokasi.

“Itu tidak masalah semua orang bisa nggak setuju. Tapi jangan Anda ekspos ke luar bahwa Anda tidak percaya dengan Sinovac dan saya akan membeli produk dari luar negeri. Itu kan provokasi namanya,” ungkapnya.

Dia juga membantah bahwa unggahannya itu untuk menghinda dan merendahkan masyarakat Papua.

“Saya tidak ada pikiran itu membawa nama Papua karena di judul saya itu tidak ada kata-kata Papua,” ujarnya.

Ambroncius juga menyatakan bahwa apa yang ia sampaikan melalui media sosial itu adalah kritik satire.

“Sifatnya itu satire, kritik satire. Kalau orang cerdas tau itu satire, itu lelucon-lelucon,” katanya.

“Bukan tujuannya untuk menghina orang, apalagi menghina suku dan agama, tidak ada, jauh sekali, apalagi menghina Papua,” tandas Ambroncius. (ruh/pojoksatu)