Kawal Penyelidikan Penembakan Laskar FPI, Begini Pesan Mardani Ali Untuk Komnas HAM

rekonstruksi kasus penembakan laskar fpi dengan polda metro jaya/net

POJOKSATU.id, JAKARTA- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) baru saja selesai merilis hasil penyelidikan terhadap enam laskar Front Pembela Islam (FPI) di Jl Tol Jakarta-Cikampek.


Hasilnya, Komnas HAM mendapatkan bahwa ada pelanggaran HAM yang dilakukan pihak kepolisian terhadap empat laskar FPI.

Menanggapi hal tersebut, Politisi Partai Keadilan (PKS) Mardani Ali Sera memuji sikap Komnas HAM karena Independen dan transparan dalam mengungkapkan kasus HAM tersebut.

“Apresiasi Komnas HAM yang bekerja independen & profesional. Dan dlm waktu yg relatif cepat,” ujar Mardani lewat Twitternya @mardaniAlisera, dikutup Pojoksatu.id, Sabtu (9/1/2021).


Kendati demikian, anggota Komisi II DPR RI itu meminta Komnas HAM terus mengusut tuntas penembakan laskar FPI itu.

Oleh karena itu, Mardani juga mengimbau kepada semua pihak untuk terus mengawal proses penyelidikan itu guna menegakkan keadilan terhadap keluarga korban.

“Publik menunggu paparan detail & tindak lanjut dari hasil penyelidikan ini, semua pihak mari kita sama2 mengawal agar kebenaran & keadilan dpt ditegakkan pd organisasi,” tandasnya.

Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM Chairul Anam menyebut tim investigasi Komnas HAM telah mendapatkan sejumlah bukti dan keterangan saksi bahwa ada empat anggota Laskar FPI yang ditembak secara bersamaan di dalam mobil yang dikendarai Polisi.

Padahal, kata Choirul, keempat anggota Laskar FPI tersebut berada di dalam penguasaan Kepolisian, tetapi langsung ditembak di dalam kendaraan.

“Penembakan sekaligus dalam satu waktu tersebut mengindikasikan bahwa ada pelanggaran HAM yang terjadi terhadap empat Laskar FPI,” kata Anam, Jumat (8/1/2021).

Dia menjelaskan bahwa oknum anggota Polri yang menembak empat anggota Laskar FPI itu sempat menangkap keempatnya hidup-hidup di KM 50.

Tapi, lanjut Choirul, di sepanjang perjalanan ke arah Polda Metro Jaya, keempatnya ditembak mati di dalam mobil yang digunakan oknum Polri tersebut.

“Jadi di KM 50 ke atas, keempatnya masih hidup saat ditangkap. Namun terjadi penembakan dalam satu waktu, kemudian keempatnya ditemukan tewas di dalam mobil. Itu bentuk pelanggaran HAM,” katanya.

(muf/pojoksatu)