Komnas HAM Ungkap Laskar FPI Miliki Senpi Rakitan, 2 Peluru Ditembakkan ke Polisi

Rekonstruksi penembakan enam laskar FPI di rest area Tol Jakarta-Cikampek KM50. Foto: Ega/PojokKarawang.com

POJOKSATU.id, JAKARTA— Komnas HAM telah merampungkan penyelidikan terkait baku tembak antara laskar FPI dan polisi di Tol Cikampek. Laskar FPI memiliki senpi rakitan dan dua kali ditembakkan ke polisi.


Komnas HAM juga meminta adanya tindaklanjut atas kepemilikan senjata api yang digunakan laskar FPI dalam baku tembak dengan anggota Polda Metro Jaya di Tol Cikampek.

Tindaklanjut kepemilikan senjata tersebut merupakan salah satu rekomendasi dari kesimpulan hasil investigasi yang dilakukan Komnas HAM.

Komisioner Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Penyelidikan dan Pemantauan Komnas HAM Choirul Anam menyampaikan investigasi dilakukan Komnas HAM secara independen dengan memeriksa temuan-temuan fakta.


Termasuk memeriksa lokasi kejadian, rekaman suara diperoleh hingga 137 ribu lebih tangkapan gambar.

“Rekaman suara dilakukan secara manual dan satuan teks dan lokasi. Jadi voice note yang didapat dari polisi dan FPI diperiksa manual,” jelas Anam saat konferensi pers hasil penyelidikan tewasnya 6 anggota laskar FPI di kantor Komnas HAM, Jumat (8/1).

“Dicocokkan saksi yang ada di dalam voice note, apakah benar,” jelasnya.

“Hasilnya dapat skema jalan dari Sentul sampai gerbang tol siapa saja yang ngomong. Pembicaraan ada di voice note,” jelasnya lagi.

Komnas HAM memperoleh gambaran adanya ketegangan eskalasi rendah dari Sentul sampai Pintu Tol Karawang Timur.

Eskalasi rendah ini ditandai dengan belum adanya gesekan antara rombongan FPI dan petugas karena jarak kendaraan masih jauh.

Fakta yang ditemukan Komnas HAM yakni terdapat kendaraan laskar FPI memiliki kesempatan menjauh dari petugas.

Namun, hal tersebut tidak dilakukan oleh laskar FPI.

Temuan itu diperoleh dari tangkapan gambar CCTV milik Jasa Marga dan rekaman suara diperoleh.

“Ini yang juga penting salah satu temuan kami terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari petugas, namun malah mengambil tindakan menunggu petugas,” terang Anam.

Eskalasi sedang kemudian terjadi saat dua kendaraan rombongan FPI dan memperlambat laju untuk mengalihkan petugas yang menguntit.

Eskalasi sedang berupa kendaraan yang mulai memepet dan jarak semakin dekat ini terjadi dari pintu Tol Karawang Timur ke sekitar Hotel Swissbell Karawang.

“Eksalasi berat dari Swissbell Hotel Karawang sampai Pintu Tol Karawang Barat,” ucap Anam.

Komnas HAM menekankan telah menggelar uji balistik terhadap selongsong yang mereka temukan di lokasi.

Dari temuan ini, Anam mengatakan ada dua selongsong peluru yang diduga merupakan senjata rakitan milik anggota FPI.

Selain itu, ada juga tiga selongsong peluru yang diduga milik anggota polisi.

“Proses uji balistik ini sangat terbuka, melibatkan masyarakat sipil dan ahli dari Pindad,” ujar Anam.

 

(rmol/pojoksatu)