Surat Terbuka PB PGRI, Ngarep Jokowi Panggul Sekarung SK Guru Honorer K2

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Dudung Nurullah Koswara mengajukan permohonan kepada Presiden Joko Widodo. Permohonan itu dia tulis dalam bentuk surat terbuka.


Inti dari surat terbuka, Dudung berharap Jokowi memberikan keadilan pada kaum guru terutama honorer K2 yang tertinggal dalam rekrutmen CPNS maupun PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja).

Dudung juga berharap Jokowi bisa seperti Khalifah Umar bin Khatab yang memberikan kebahagiaan bagi rakyat kecil.

“Saya percaya dalam kepemimpinan Bapak tidak ada guru yang merasa dizalimi. Kami menunggu waktu perintah Bapak pada pembantu Bapak agar memuliakan guru honorer K2,” kata Dudung dalam surat terbukanya, seperti dilansir JPNN, Kamis (7/1).


Berikut isi surat terbuka Dudung Nurullah Koswara:

Bapak Jokowi, saya pengagum Bapak. Saya bukan PNS yang masuk kategori 72 persen.

Tulisan di media cetak dan dua buku khusus terkait Bapak, saya tulis Bapak orang yang sangat hebat dan saya kagumi.

Tulisan-tulisan saya tentang Bapak, terdokumentasi dengan baik. Namun maaf Bapak Jokowi, melalui surat ini saya akan narasikan sebuah derita panjang rakyat Bapak.

Rakyat yang mana? Rakyat entitas guru honorer K2 yang tertinggal menjadi PNS dan PPPK. Sebagian guru honorer K2, beberapa sudah meninggal dunia membawa derita panjangnya ke alam kubur.

Bapak Jokowi yang saya muliakan dan saya kagumi. Hari ini saya ditelepon perwakilan guru honorer K2.

Mereka mengaspirasikan derita panjangnya sebagai pahlawan pendidik usia tua. Usia mereka banyak yang di atas 50 tahun.

Di antara para pengabdi itu adalah Ibu Rr. Dyan Candrasari. N, S.Pd. Ia sudah mengabdi pada negara sejak 1990. Entitas mereka awalnya sangat berharap mengikuti sahabat lainnya yang sudah lolos menjadi PNS. Kini harapan itu tiada.

Satu lagi adalah Ibu Tita Sugihartati, 52 tahun. Ia mengajar sejak Juli 2004. Dari aspirasi yang mereka inginkan substansinya sama yakni mohon kepada pemerintah agar guru yang usianya di atas 50 tahun tolong diprioritaskan. Mereka (para guru tua) meminta keadilan kepada pemerintah melalui Bapak Jokowi sebagai presidennya.

Sebagai pendidik, pengurus organisasi profesi guru, saya setuju dan sepakat bila pemerintah ingin mengamalkan Pancasila terutama sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab, adakan jalur khusus jadikan mereka PPPK, karena tak memungkinkan menjadi PNS karena aturan baru. Mereka tidak harus diadukan atau seleksi bersama para guru muda.

Mengapa mereka tidak harus beradu dengan guru muda? Pepatah bijak mengatakan orang yang berjasa jauh lebih utama dari orang yang pintar namun baru mau memulai kerja atau berjuang.

Para tenaga honorer guru dan tenaga honorer lainnya di republik ini yang sudah berusia lanjut dan berprestasi (mengabdi lama non UMR/UMP/UMK) segera loloskan jalur PPPK! Portofolio dedikasi mereka lebih dari cukup!

Dalam kisah keagamaan seorang ulama menceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatab mendapatkan seorang ibu tua (metafora honorer K2) memasak batu untuk mengelabui anak-anaknya yang kelaparan agar tertidur.

Ini persis dengan nasib para guru honorer K2 yang sudah pada berumur dan sengsara membiayai anak-anaknya.

Betapa indahnya bila Bapak Jokowi bagaikan Khaifah Umar bin Khatab memanggul sendiri karung beras dan diberikan kepada ibu tua yang kelaparan.

Mengapa tidak, yang mulia Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memanggul sekarung SK diterimanya para guru honorer tua K2, dimuliakan menjadi PPPK tanpa tes! Mereka sudah bukan waktunya dites lagi melainkan dimuliakan!

Sehat selalu Bapak presidenku. Semoga Bapak mendengar jeritan pinggiran para guru honorer tua K2. Saya percaya dalam kepemimpinan bapak tidak ada guru yang merasa dizalimi.

Kami menunggu waktu perintah bapak pada pembantu bapak agar memuliakan mereka (guru honorer K2) sesuai Pancasila sila kedua!

Salam hormat,

Dudung Nurullah Koswara
Ketua PB PGRI