Abu Bakar Baasyir Bebas, Australia yang Parno

Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (1/3/2018). Abu Bakar Ba'asyir mendatangi RSCM untuk melakukan kontrol kesehatan atas sakit yang dideritanya. Pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu berobat ke RSCM usai diizinkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (1/3/2018). Abu Bakar Ba'asyir mendatangi RSCM untuk melakukan kontrol kesehatan atas sakit yang dideritanya. Pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu berobat ke RSCM usai diizinkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

POJOKSATU.id, JAKARTA – Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir dipastikan bebas pada Jumat 8 Desember 2021.

Kepastian itu ternyata membuat Australia parno alias khawatir Baasyir bakal kembali memicu aksi-aksi teror lain di kemudian hari.

Kekhawatiran itu disampaikan Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne yang mendesak Pemerintah Indonesia memastikan bahwa Baasyir benar-benar sudah tidak berbahaya lagi.

“Kedutaan kami di Jakarta telah menjelaskan keprihatinannya,” ujar Payne dilansir dari Reuters, kemarin.


Menurutnya, perlu penanganan khusus terhadap pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Grogol, Kabupaten Sukoharjo itu.

“Orang seperti itu perlu dicegah melakukan serangan di masa depan terhadap warga sipil yang tidak bersalah,” sambungnya.

Dalam pemberitaan lainnya, Payne menyebut bebasnya Baasyir akan berdampak pada psikologis keluarga dan kerabat 88 warga Australia yang terbunuh pada 2002 lalu.

Juga kepada empat orang Australia lainnya yang meninggal di Bali 2005 lalu akibat aksi terorisme yang dikomandani Baasyir.