Mahalnya Rapid Test Antigen, Politisi PAN Tantang Pemerintah ‘Coba di Gratiskan’

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay tegur Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris. Foto Antara
Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay tegur Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris. Foto Antara

POJOKSATU.id, JAKARTA- Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay menantang Pemerintah untuk bisa menggratiskan rapid test antigen.

Pasalnya, Saleh menilai kebijakan test antigen tersebut dinilai sangat memberatkan masyarakat dengan harga yang tergolong mahal.

“Sekarang ini, sudah bayar mahal, antrean panjang pula. Nah, bisa gak pemerintah menggratiskan test antigen ini?,” kata Saleh kepada Pojoksatu.id di Jakarta, Selasa (22/12/2020).

Kalau pun Pemerintah belum bisa memberikan pelayanan gratis, setidaknya, lanjut anggota Komisi IX DPR RI, Pemerintah menurunkan harga kebijakan test antigen tersebut.


“Atau setidaknya mengurangi harganya? Kalau gak bisa, ya tolonglah pelayanan kepada masyarakat yang ingin menaati aturan pemerintah diperbaiki,” tandasnya.

Kendati demikian, ungkap Saleh, langkah pemerintah tersebut perlu juga diapresiasi karena mengarah kepada pemutusan penularan Covid-19.

Meski begitu, Ia meminta Satgas dan Kementrian Kesehatan segera memperhatikan masalah ini lantaran sudah menambah beban masyarakat.

“Jangan sampai aturan yang dinilai baik, justru menyulitkan masyarakat. Harus ada upaya yang dilakukan untuk mengurangi beban masyarakat,” pungkas Saleh.

Diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan harga tertinggi rapid test antigen sebesar 250 ribu rupiah di pulau Jawa.

Sementara itu, untuk daerah pulau Jawa, Kemenkes menetapkan harga rapid test antigen sebesar 270 ribu.

Demikian disampaikan dr Azhar Jaya Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kementerian Kesehatan RI dalam Konferensi Pers Bersama Kemenkes RI dan BPKP Tentang HET Pemeriksaan Rapid Tes Antigen-Swab, Jumat (18/12/2020)

“Batasan tarif tertinggi untuk rapid test antigen sebesar 250 ribu rupiah di pulau Jawa, luar pulau Jawa 275 ribu,” jelas dr Azhar Jaya.

(muf/Pojoksatu)