KPAI Usulkan Sekolah Tatap Muka Bisa Digelar 2021

Pastikan Sekolah Patuhi Protokol Kesehatan, Bupati Pinrang Turun Memantau
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan usalan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemedikbud) untuk menggelar sekolah tatap muka pada 2021.


Hal ini disampaikan Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam talkshow Belajar Efektif di Masa Pandemi, Jumat (13/11).

Retno mengatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja Kemendikbud yang dnilai cukup responsif dalam mencari solusi belajar di tengah pandemi.

Namun, dirinya menuturkan, berdasarkan hasil pengawasan di lapangan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dinilai cukup memberatkan siswa.


Disampaikan dari 46 sekolah di 19 kabupaten/kota yang didatangi, hanya lima yang menerapkan panduan kurikulum dalam situasi darurat. Sedangkan sisanya, masih menerapkan kurikulum 2013.

Lebih lanjut, pihaknya akan membeberkan hasil pengawasan di lapangan pada 30 November mendatang untuk dijadikan rujukan penerapan sekolah tatap muka pada 2021.

Salah satunya, ia sempat menyinggung soal pelaksanaan sekolah tatap muka nanti diharapkan berdasarkan kesiapan sarana dan prasana, bukan zona risiko Covid-19.

“30 November nanti seluruh hasil pengawasan kami, berikut seluruh masukan kami agar 2021 kita mulai berpikir buka sekolah. Tapi kalau 2020 rasanya belum, karena sekolah belum tentu siap. Dari 46 sekolah yang kami datangi, yang siap empat. Dua SMK, satu SMA, satu SMP,” paparnya.

Retno menambahkan, informasi ini diharapkan bisa membuat pemerintah, termasuk di daerah untuk melakukan persiapan.

“Politik anggaran di kesanakan, Kemendikbud juga mulai jangan bantuan kuota saja, tapi mulai infrastruktur sekolah. Agar anak-anak kita di sekolah betul-betul terlindungi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Peserta Didik Direktorat SMA Kemendikbud Juandanilsyah mengatakan, pihaknya sudah memikirkan untuk menggelar sekolah tatap muka.

“Kita juga tidak ingin ada lost learning di situ, hilangnya proses pembelajaran bagi anak-anak kita. Hingga ini menjadi pemikiran kita semua, sehingga harus bersinergi dan apa yang disampaikan, kita juga berpikir mal saja dibuka, bioskop dibuka, kenapa nggak sekolah. Tetapi kan pertimbangannya adalah persyaratan-persyaratan itu kan sudah diikuti dan di-studi beberapa kementerian yang mengambil keputusan terhadap zona-zona itu,” ujar dia.

“Tetapi kan ini di zona hijau sudah berjalan di beberapa daerah tetapi kondisi Covid-19 ini berubah-berubah, itu kan penyesuaian Perda/Pergub-nya lagi. Pada saat zona hijau pun ada yang memang daerah gubernurnya tunda dulu karena sebagian dari masyarakat meminta itu,” sambungnya.

Lebih lanjut, pihaknya pun mengatakan ke depan sekolah tatap muka bisa dilaksanakan dengan jaminan melaksanakan persyaratan yang ditentukan.

Tidak hanya itu, kata Juandanilsyah, dengan harapan ditemukannya vaksin Covid-19, diharapkan sekolah tatap muka juga bisa digelar di zona kuning bahkan merah.

“Dia bisa membuka sekolah dengan catatan bahwa persyaratan-persyaratan pembukaan sekolah itu paling tidak di lapangan sudah terpenuhi fasilitasnya sudah terpenuhi,” paparnya.

“Nanti ke depan kita juga bersyukur kalau sudah ada vaksin, di awal tahun barangkali kita bisa tatap muka. Dicoba di (zona) kuning, merah, barangkali,” tandasnya.

(zul/pojoksatu/adv)