Cerita Penyintas Covid-19, Jenuh Jalani Isolasi Mandiri Hingga Ingatkan Tidak Abai Protokol Kesehatan

Erian Sandri berbagi pengalamannya menjadi isolasi mandiri karena Covid-19.
Erian Sandri berbagi pengalamannya menjadi isolasi mandiri karena Covid-19.

Erian Sandri (27), dinyatakan positif Covid-19 pada 14 September 2020 lalu, Karena itu, ia pun harus menjalani isolasi mandiri. Simak kisahnya.

Arief Pratama, Bandung

Tanggal 14 September bisa menjadi hari yang paling tidak ingin diingat Erian Sandri (27). Sebab, di tanggal tersebut dirinya dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab.

Sejak itu, pria yang sehari-hari bekerja sebagai kontributor media siber di Jakarta ini harus menghentikan segala aktivitasnya melakukan pekerjaan jurnalistik.

Pasalnya, bapak tiga anak ini pun harus menjalani isolasi mandiri.

Erian mengaku tidak menyangka bisa dinyatakan positif. Sebab, ia selalu menjalankan protokol kesehatan saat peliputan.

“Ya saya juga kaget, padahal masker pakai tiap hari. Bawa hand sanitizer juga, ya mungkin ini sudah jalan dari yang Kuasa, saya pasrah aja menjalani,” katanya.

Erian pun menceritakan saat dirinya menjalani isolasi mandiri di kediamannya di Cileunyi. Diakuinya, ia hanya sendiri di rumah lantaran keluarga mengungsi ke rumah nenek.

“Saya sendiri di rumah, keluarga saya saya pindahkan dulu ke rumah nenek di Rancaekek. Hari pertama memang jenuh, lalu saya berusaha beraktivitas dengan mengotak atik motor di dalam rumah,” ujarnya.

Hari demi hari terus berlalu, tiba saat memasuki hari ke tujuh, dirinya menjalani tes swab kedua kalinya. Hasilnya memuaskan.

“Setelah seminggu itu swab kedua, Alhamdulillah baik tak ada tanda reaktif, dan itu membuat saya semangat menjalani hidup. Saat itu saya mencoba mencari kesibukan dengan melakukan kegiatan yang namanya “ngurek”. Hal ini dilakukan agar menghilangkan stres selama berhari-hari sejak dinyatakan positif Covid-19,” paparnya.

Selama 14 hari, Erian mengaku tidak pernah absen mengonsumsi vitamin C.

“Jadi perlu ditegaskan, kalau isolasi mandiri itu tetap dipantau oleh Dinkes ya,” jelasnya.

Erian mengakui, selama dua minggu lockdown tak ada penghasilan, karena saya dibayar per berita.

“Jadi seharusnya pemerintah lebih memahami kondisi para pekerja media seperti kita yg terkena Covid harus diberi perhatian juga tapi ya mudah-mudahan gak ada lagi insan pers yang terpapar,” harapnya.

Dalam kasus positif Covid-19 yang dialami Erian Sandri, ini merupakan kasus OTG atau orang tanpa gejala.

“Memang tanpa gejala, karena saya juga sudah cek ke istri, 3 anak saya, bahkan kedua orang tua saya dan dua keponakan saya ikut tes rapid, dengan hasil negatif,” paparnya.

Mengapa dirinya memilih isolasi mandiri di rumah, karena perhitungannya takut keluarganya ada yang positif juga.

“Dinkes/Pemprov Jabar memfasilitasi tempat karantina, tapi saya memilih untuk isolasi mandiri karena perhitungan takut anak kena juga jadi saya bisa nemenin di rumah,” ujarnya.

Dirinya menyadari, jika dinyatakan positif Covid-19 tak perlu ada gejala. “Seperti yang saya rasakan, tak ada gejala sama sekali, sehingga saya berharap kepada masyarakat agar terus menjaga protokol Kesehatan saat ini, jangan mengabaikan. Peraturan pemerintah dengan mentaati 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak),” pungkasnya. (*)

Loading...