Buku Pedoman Dirilis, Bisa Jadi Acuan dalam Menerapkan Perubahan Perilaku di Masa Pandemi

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B. Harmadi/ Foto ANTARA
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B. Harmadi/ Foto ANTARA

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satgas Penanganan Covid-19 meluncurkan buku “Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19”.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Hari B. Harmadi menjelaskan, buku tersebut dibuat sebagai acuan bersama dalam menerapkan perubahan perilaku di masa pandemi.

“Kami berkesimpulan perlu menyusun buku pedoman Perilaku yang baku dan berlaku untuk semua,” kata Sonny, yang juga selaku tim penyusun, dikutip dari laman resmi Satgas Covid-19.

Sonny mengatakan, secara singkat isi buku saku ini berisi seputar perubahan perilaku, apa dampaknya dan syaratnya.

Disampaikan, buku ini melibatkan para pakar dari berbagai bidang disiplin ilmu seperti pakar kesehatan, sosiolog, antropolog, hingga ahli bahasa.

Adapun keterlibatan ahli bahasa dalam buku ini agar pesan yang disampaikan mudah diterima masyarakat.

“Bagaimanapun juga bahasa menjadi penting sebagai media komunikasi karena orang akan paham dengan menggunakan bahasa yang tepat,” jelasnya.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan menyambut baik peluncuran buku tersebut.

Ia mengatakan, mulai Maret sampai Oktober 2020 ini banyak perubahan yang berbeda-beda sehingga membingungkan masyarakat. Organisasi-organisasi masyarakat dan sejumlah lembaga membuat buku acuan tersendiri yang pemahamannya agak berbeda. Dampaknya, ketika sosialisasi masyarakat menjadi bingung.

“Maka buku ini yang kita tunggu-tunggu sebagai acuan kita semua dari Sabang sampai Merauke, termasuk kami di BNPB,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur Joni Wahyuhadi mengatakan pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 cukup.

Hal ini diungkapkannya berdasarkan hasil survei selama empat bulan di masa pandemi.

Diungkapkan pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 cukup, perilaku baik, namun dalam implementasinya tidak selalu baik.

Perubahan perilaku terhadap ketaatan protokol kesehatan tidak cukup hanya sebatas tahu dan mengerti.

“Maka protokol kesehatan ditegakkan dengan melibatkan polisi dan tentara untuk menggelar operasi yustisi,” tandasnya.

(zul/pojoksatu/adv)

Loading...