Tak Terima Klien Ditahan, Pengacara Adukan Polres Bogor ke Komiis III Soal Bom Molotov

POJOKSATU.id, JAKARTA- Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) mengadukan sikap deskriminatif kepolisian dalam hal Polres Bogor kepada anggota Komisi 3 DPR RI Fraksi PKS dalam menangani kasus pelemparan bom molotov ke kantor PDIP di Kab. Bogor pada Juni lalu.

Kedatangan PUSHAMI bersama keluarga korban ke komisi yang bermitra dengan Korps Byangkara itu agar kliennya yang ditahan diperlakukan dengan represif.

“Kami mengadukan perihal tindakan kepolisian yang berulang ulang terkait dengan pihak yang diduga kontra rezim yakni diperlakukan dengan represif, tidak profesional, diskriminatif, dan tidak transparan,” kata terduga pelaku dari Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI), Azis Yanuar kepada Pojoksatu, Selasa (1/9/2020).

Azis Yanuar menuturkan, penahanan 2 kliennya dari tujuh pelaku yang ditahan dinilai tidak profesional. Pasalnya, dua kliennya itu sama sekali tidak terlibat dalam aksi pelemparan bom molotov ke kantor PDIP itu.


“Polisi tidak profesional, tidak transparan, diskriminatif,dan dituduh terlibat aksi pelemparan molotov (klien kami) ke kantor PDIP DPC Cileungsi Bogor,” ungkapnya.

Seperti diketahui, teror bom molotov terjadi di dua markas PDIP PAC Bogor. Insiden pertama menimpa kediaman pengurus PDIP PAC Megamendung pada Selasa (28/7). Sehari berselang atau pada Rabu (29/7), teror bom molotov kembali terjadi di sekretariat PAC PDIP Cileungsi Bogor.

Tiap tempat diteror bom molotov. Selain itu, ada tiga kali lemparan di tiap markas partai berlambang banteng itu

Polisi kemudian menangkap tujuh orang terduga pelaku pelemparan bom molotov itu.

Saat ini ketujuh tersangka tersebut sudah ditahan di Mapolres Bogor. Mereka dijerat Pasal 187 dan 406 KUHP.

“Tujuh pelaku sudah ditahan,” ucap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes CH Patoppoi via pesan singkat, Senin (24/8).

(fir/pojoksatu)