Cemburu, Kepala Dusun Dibunuh Kakak Ipar di Kantor Desa

FH, pelaku pembunuhan Doni Iskandar ditangkap. Foto Radar Jambi

POJOKSATU.id, JAMBI – Hendi Fernando (33) gelap mata. Ia menusuk Doni Iskandar (40) di Kantor Desa Koto Boyo, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Jambi.


Akibatnya, Doni yang merupakan salah satu kepala dusun (Kadus) di Desa Koto Boyo tewas saat menjalani perawatan di RS Mitra Medika Muarabulian.

Informasi yang didapat, Hendi dan Doni masih ada hubungan keluarga. Bahkan, korban Doni merupakan kakak ipar dari pelaku.

Hendi sendiri nekat menghabisi Doni karena terbakar api cemburu. Dia yakin Doni selingkuh dengan istrinya.


Keyakinan Hendi memuncak saat dia membaca percakapan WhatsApp antara istrinya dengan Doni. Hendi mengerahui percakapan istrinya dengan Doni karena sebelumnya dia sudah meretas WhatsApp istrinya.

Atas dasar itu lah, Hendi mendatangi Doni di Kantor Desa Desa Koto Boyo yang sedang merayakan ulang tahun bersama para perangkat desa, Rabu (24/6) pukul 14.15 WIB.

Henda menusuk Doni hingga terkapar dan tewas. Usai melancarkan aksinya, Hendri pun langsung menyerahkan diri ke polisi.

“Hari pertamo sayo sadap belum ado chatingan. Hari keduo jugo belum ado. Hari ketigonya, baru ado percakapan yang mengarah perselingkuhan bahkan pembicaraan tentang hubungan baadan,” kata Hendi, saat ditanyai di Polres Batanghari.

BACA: Cinta Segitiga Berujung Maut, Kepala Dusun Tewas Ditusuk Ipar Saat Rayakan Ultah

Hendi mengaku tidak habis pikir Doni tega menyelingkuhi istrinya. Padahal jarak rumah mereka pun tak berjauhan.

Sementara itu, Intan salah satu saksi mata yang berada di ruangan Desa Koto Boyo mengatakan, dirinya saat itu sedang melayani masyarakat yang hendak mengurus bantuan.

“Tahu-tahu korban sudah kena tusuk. Di dalam ruangan tersebut ada saya selaku kasi pem, kasi kesra dan pak Babinkamtibmas Desa Koto Boyo,” jelasnya.

Kasat Reskrim Polres Batanghari, Iptu Orivan mengatakan, Hendi Fernando telah diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif.

Akibat perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 353 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara.

(fer/zen/jambiindependent)