KPAI Perjuangkan Hak Pendidikan ABG yang Bunuh Bocah di Jakpus, Begini Sekarang Nasibnya

Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty. Foto: Prisca Triferna/Antara

POJOKSATU.id, JAKARTA- Komisioner KPAI Retno Listyarti mengapresiasi Apresiasi Dinas Pendidikan DKI Jakarta teta membantu hak pendidikan tersangak NF (15), yang nekat membunuh bocah berusia 6 tahun berinisial APA di Jalan B2 Dalam Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat Kamis (5/4) lalu.

“Kita sudah berkomunikasi dengan pihak Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, melalui Kepala Sudin Pendidikan Jakarta Pusat 1 untuk mendorong pemenuhan hak atas pendidikan ananda NF,” kata Retno dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/5).

Retno menyebut, tindakan kejahatan yang dilakukan NF memang tidak dibemarkan di mata hukum. Namun, sabagai anak di bawah umur NF tetap harus mempunyai hak demi pendidikan masa depannya.

“Kita semua tidak membenarkan perbuatan pidananya dengan alasan apapun, tapi setidaknya kita menolongnya, agar ananda NF bisa melanjutkan hidup dan masa depannya,” ungkapnya.


“Hak atas pendidikannya wajib amanatnya penuhi negara sesuai amanat konstitusi. Dan pihak Disdik DKI Jakarta menjamin hak pendidikan ananda NF dijamin pemenuhannya,” tegas Retno.

Diketahui, seorang bocah, APA (6) tewas di tangan remaja berusia 15 tahun. Dia dibunuh saat bermain bersama. Kasus ini terungkap setelah pelakunya menyerahkan diri ke kantor polisi pada Jumat (6/3).

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto menerangkan, pihaknya menerima seorang remaja berinisial NF dari Polsek Taman Sari Jakarta Barat sekira pukul 11.00 WIB. NF mengaku kepada polisi telah membunuh seorang anak kecil.

Menurut keterangan, peristiwa itu terjadi kala itu bocah itu menyambangi rumah pelaku di Jalan B2 Dalam Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Kamis 5 Maret 2020 sekira pukul 16.00 WIB.

“Korban kemudian bermain dengan tersangka,” kata dia.

Heru mengatakan, saat itulah pembunuhan terjadi. Jasad korban kemudian dimasukan ke dalam lemari baju.

“Karena anak di bawah umur, kita kenakan pasal khusus,” ungkapnya.

(fir/pojoksatu)