Mahfud MD Geram Wali Murid Aniaya Kepala Sekolah, Bawa Senjata Api

Prof Mahfud MD
Prof Mahfud MD

POJOKSATU.id, JAMBI – Kasus wali murid aniaya kepala sekolah (kepsek) di Tanjung Jabung Barat, Jambi mendapat tanggapan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu geram lantaran wali murid menganiaya kepsek dengan kejam. Bahkan, pelaku membawa senjata api.

Mahfud meminta aparat kepolisian untuk memberikan tindakan tegas kepada pelaku.

“Pg ini ada berita seorang wali murid di Tanjung Jabung menganiaya kepala sekolah dgn keji dan menghina krn sang kepala sekolah melakukan tindakan pendisiplinan thd muridnya yg adl anak si penganiaya,” kata Mahfud di akun Twitternya, Rabu (11/3/2020).


“Ini (pelaku) hrs ditindak tegas, apalagi si penganiaya diketahui menyimpan senjata api,” tegas Mahfud.

Wali murid berinisial BM menganiaya Kepala SMAN 10 Tanjung Jabung Barat, Lasemen pada Rabu (4/3) lalu.

Seperti dilansir Jambi Independent, kasus ini berawal saat sekolah menggelar ujian berbasis android (online) yang menggunakan wifi sekolah.

Siswa dilarang menggunakan ponsel selama ujian berlangsung. Semua ponsel dikumpulkan.

Saat sesi pertama ujian berlangsung, salah seorang siswa izin keluar kelas. Rupanya dia diam-diam mengambil ponsel yang sebelumnya telah dikumpulkan di luar kelas.

Kepala SMAN 10 Tanjung Jabung Barat, Lasemen melihat kejadian tersebut. Ia kemudian menyita ponsel itu.

Lasemen meminta agar orang tua hadir saat mengambil ponsel. Sore harinya, orang tua siswa yang bersangkutan datang.

Wali murid itu datang membawa senjata api. Dia mengeluarkan tembakan di luar ruangan.

Selanjutnya, pelaku menyerang Lasemanmenggunakan batako di depan kantor guru.

Pelaku juga sempat melayangkan pukulan dengan tongkat pramuka ke arah korban.

Beruntung, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang mengetahui ada keributan langsung merelai perkelahian.

Malam harinya pelaku kembali mendatangi kepala sekolah. Namun saat itu kepala sekolah sudah disembunyikan di salah satu rumah guru.

Keesokan harinya, Lasemen melapor kepada pihak kades, untuk meminta perlindungan.

Lantaran tidak mendapat titik temu, korban kemudian melaporkan kejadian yang menimpanya kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jambi untuk meminta perlindungan.

(one/pojoksatu)