Pasutri Merasa Dijadikan Budak di Bintaro, Sering Disiksa, Gaji Cuma Rp350 Ribu

Ilustrasi

POJOKSATU.id, BINTARO – Sepasang suami istri (pasutri) merasa diperlakukan seperti budak di rumah majikannya di Bintaro, Sektor 7, Tangerang Selatan (Tangsel). Keduanya juga sering dipukul hingga babak belur.


Tak hanya itu, pasutri ini juga mendapat gaji yang tidak layak. Sang suami hanya digaji Rp750 per bulan, sedangkan istrinya Rp350 sebulan.

Kejadian bermula saat korban Achmad Yanuardi bersama istrinya mendapatkan informasi lowongan kerja di internet dengan gaji Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan.


Keduanya lantas melamar kerja ke tempat terduga pelaku berinisial LW di Bintaro. Achmad menjadi sopir dan istrinya menjadi pembantu.

Setelah bekerja, Achmad hanya digaji Rp 750 ribu dan istrinya 350 ribu per bulan.

Tak hanya itu, Achmad dan istrinya merasa diperlakukan seperti budak dan sering mendapatkan kekerasan.

Karena itu, pasutri ini tidak betah dan hendak keluar. Namun terbentur kontrak kerja yang sudah ditanda tangani. Yakni siap bekerja sebagai sopir dan mematuhi segala peraturuan di rumah majikannya.

Selain itu dalam kontrak kerja disepakati tidak bakal berhenti kerja sebelum dua tahun, terhitung mulai 31 Januari 2020 sampai dengan 31 Januari 2022.

“Baru jalan dua bulan ini. Kalau ada kesalahan kakak saya itu babak belur dipukul,” kata Dewi Indah Lestari, kakak korban kepada wartawan, Selasa (3/3).

Dewi mengaku mengetahui peristiwa yang dialami oleh sang kakak lewat pesan singkat Watshap. Bahkan sempat dilihat langsung kondisi Achmad seperti sedang mengalami kesakitan lantaran berjalan saja pun harus ditopang oleh istrinya.

“Suami saya yang ke sana, pas di sana kakak saya juga mau jalan saja harus dituntun istrinya,” lanjut Dewi.

Pada kesempatan ini, Dewi meminta bantuan ke tim kuasa hukum guna mendampingi mereka agar dapat mengeluarkan sang kakak dari perbudakan dan penyiksaan yang dilakukan oleh terduga LW.

“Saya mau minta bantuan keadilan untuk keluarga saya biar kaka saya bisa keluar dari rumah itu,” tandasnya.

Sementara itu, Supendi Hasyim pengacara yang mendampingi Dewi di kantor mengatakan bahwa hal yang dialami oleh Achmad dan sang istri merupakan tindakan perbudakan.

Sesuai informasi yang didapat, Achmad menduga ada sekitar 30 orang karyawan yang bekerja di rumah LW kerap mendapat perlakuan yang sama apabila melakukan kesalahan.

Untuk itu, saat ini pihaknya sedang menyiapkan langkah-langkah khusus untuk proses selanjutnya.

“Kami dengan tim kuasa hukum siap membantu, katanya ada 30 karyawan di rumah itu. Kami akan bantu sesuai profesi kami sebagai advokad. Mudah-mudahan kalau terbuka tidak terulang kembali seperti ini,” pungkasnya.

(one/rmol/pojoksatu)