Virus Corona dan Kasus Pengerusakan Mushola Tak buat Alumni 212 Lengah Awasi Korupsi Jiwasraya dan Asabri

Novel Bamukmin
Novel Bamukmin

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ketua Media Center Persaudaraan Alumni 212 Habib Novel Chaidir Hasan mengungkapkan, pihaknya berencana akan turun jalan menuntuk KPK mengusut tuntas kasus skandal mega korupsi Jiwasraya dan Asabri.


Pasalnya, pasca ramainya pemberitaan virus corona yang terjadi di kota Wuhun, China, kabar kasus tersebut hilang bak ditelan bumi.

“Akibat virus corona kasus mega skandal korupsi yang ada di Indonesia hilang. IinsyaAllah kami mujahid 212 akan turun aksi ke KPK untuk menuntut kasus mega sekandal korupsi,” kata Novel saat dikinfirmasi Pojoksatu, Sabtu (1/2).

Novel menyebut, kasus korupsi Jiwasraya dan Asabri yang melibatkan pemangku kekuasaan diketahui telah merugikan negara puluhan triliun.

Karena itu, kata dia, ummat islam jangan sampai lengah mengawasi kedua kasus besar itu. Sebab, dimungkinkan kejadian yang ramai diperbincangkan saat ini termasuk kasus pengerusakan mushola di Minahasa pengalihan isu merupakan upaya yang didalangi pemerintah.

“Umat islam harus fokus terhadap kasus mega skandal korupsi yang ada di Indonesia.
Saat ini yang mereka ingin hilangkan juga (Kasus korupsi) jangan lengah,” ungkapnya.

“Buat saya juga gak kaget untuk perusakan mushola di Minahasa salah satunya di duga untuk terus pengalihan isu mega skandal korupsi dan terpuruknya ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Diketahui, sekelompok orang melakukan aksi pengrusakan Mushola di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut pada Rabu (29/1/2020) malam.

Dari video yang beredar di media sosial, aksi pengrusakan itu buntut dari kemarahan warga yang merasa terganggu dengan aktivitas tempat ibadah umat Islam tersebut. Itu tampak dari spanduk yang dibentangkan di pagar mushola.

Berdasarkan informasi yang beredar sekira 50 orang dari salah satu ormas pada pukul 17.48 wita mendatangi mushola.

Mereka disebut melakukan tindakan penolakan terhadap sekelompok jamaah yang datang karena dianggap menganggu.

(fir/pojoksatu)

loading...

Berita Terkini