ABG Dijual ke Dokter Rp2 Juta, Digenjot di Tempat Praktek

Dokter setubuhi pasien di Mojokerto
Ilustrasi

POJOKSATU.id, MOJOKERTO – Dugaan persetubuhan di tempat praktek dr AG (60) di kawasan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, memunculkan fakta baru.


Dr AG diduga ‘membeli’ seorang anak baru gede (ABG) berinisial PL (15) untuk digenjot (disetubuhi) di tempat prakteknya.

PL ditawarkan oleh seorang perantara berinisial AN kepada dr AG dengan tarif Rp2 juta sekali main.

Modusnya, PL disuruh oleh majikannya, AN datang ke praktek dr AG dengan berpura-pura sebagai pasien.


Setelah datang, AG yang merupakan dokter spesialis kandungan menggenjot korban di tempat praktek.

Setelah puas, dr AG memberikan uang Rp2 juta. PL menerima Rp1,5 juta, sedangkan AN yang mendapatkan Rp 500 ribu.

Dikabarkan AN, yang tinggal di Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, adalah majikan korban.

Awalnya, korban dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT) atau asisten rumah tangga (ART) selama tiga bulan di rumah AN.

Penelusuran Jawa Pos Radar Mojokertokemarin (21/11), korban yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) itu awalnya ingin membantu perekonomian keluarga, sehingga rela bekerja di rumah AN.

Dia melamar sebagai ART di rumah AN, di kawasan Kecamatan Bangsal. Namun, kenyataan yang diterimanya justru berbeda. Bahkan, di luar dugaan.

Dugaan trafficking atau penjualan manusia itu terungkap setelah orang tua PL berinisial SI (47) resmi melaporkan kasus ini ke Mapolres Mojokerto.

Warga Jatirejo, Kabupaten Mojokerto itu melaporkan dokter AG ke polisi karena diduga telah menyetubuhi putrinya, PL.

Namun SI ia enggan menjelaskan secara jelas musibah yang menimpa buah hatinya.

Hanya saja, saat itu, PL sengaja menjadi asisten rumah tangga dengan maksud untuk membantu perekonomian keluarga.

Apalagi, selama ini korban hanya tinggal bersama sang ibu. Sang ayah belakangan diketahui tidak pernah pulang.

“Untuk jelasnya kami tidak bisa memberikan keterangan banyak,” tegas SI.

Sementara itu, kepolisian sejauh ini masih mendalami dugaan kasus dugaan trafficking yang dialami korban.

Korsp Bhayangkara ini bahkan mensiyalir kasus tersebut sarat akan perbuatan trafficking.

“Pengembangannya memang mengarah ke situ (trafficking),” ungkap Kanit Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto, Ipda Rokhim, seperti dikutip Radar Mojokerto, Jumat (22/11).

Meski demikian, lanjut dia, sejauh ini penyidik masih fokus untuk melakukan pengumpulan barang bukti dan keterangan saksi-saksi guna mengungkap fakta atas dugaan persetubuhan dan trafficking tersebut.

Kabarnya, korban telah dipertemukan dengan sang dokter spesialis asal Pasuruan itu. Dalam pertemuan itu terungkap bahwa korban diberi uang Rp 1,5 juta. Sedangkan, AN, menerima imbalan Rp 500 ribu.

“Saat ini kita masih memeriksa saksi-saksi korban dan pelapor (ibu korban). Sebab, berbagai kemungkinan memang masih bisa saja terjadi,” terangnya.

Kasus tersebut sebelumnya dilaporkan keluarga korban pada Senin (18/11/2019).

Pasca menerima laporan itu, polisi menyatakan akan serius dalam pengungkapan kasusnya. Terlebih, selain tidak memiliki ayah, korban tercatat masih di bawah umur.

Sementara itu, saat didatangi di tempat praktik miliknya, dokter AG belum bisa memberikan keterangan resmi.

Saat Jawa Pos Radar Mojokerto mendatangi tempat praktiknya di kawasan Mojosari, dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu nampak berburu-buru naik mobil.

Bahkan, dia menolak memberikan pernyataan kepada wartawan, dengan alasan akan melakukan proses operasi pasien.

“Tidak usah. Cepat-cepat, mau ada yang operasi,” katanya kepada sopir pribadinya.

(mj/ori/ron/jpr/pojoksatu)