Ini Kata Mantan Danjen Kopassus Yang Dikaitkan Bakal Ngebom Jakarta

Soenarko

POJOKSATU.id, JAKARTA- Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI AD (Purn) Soenarko dikait-kaitkan dengan kasus dugaan perencanaan peledakan bom ikan di beberapa titik di Jakarta.


Dugaan perencanaan peledakan bom itu dalam kaitan rencana kerusuhan pada Aksi Mujahid 212, Sabtu 28 September lalu.

Pertemuan Majelis Kebangsaan Pancasila Nusantara (MKPN) di kediaman Soenarko pada 20 September 2019 disebut-sebut membahas perencanaan peledakan bom sebagai bagian gerakan untuk menggulingkan Presiden Joko Widodo.

Oleh Soenarko, dia blak-blakan terkait semua tudingan itu.


Dalam kasus ini sudah ada delapan orang ditetapkan tersangka. Diantaranya, Abdul Basith, Sony Santoso dan Laode Sugiono.

Berikut bantahan Soenarko dalam bentuk tanya jawab yang diterima redaksi, Senin (14/10):

Bagaimana Bapak bisa kenal dengan orang-orang Majelis Kebangsaan Pancasila Nusantara?:

Saya kenal Majelis Kebangsaan Pancasila dari Laksamana TNI AL (Purn) Slamet Soebijanto sekitar dua tahun yang lalu.

Seperti apa pertemuan di kediaman Bapak pada tanggal 20 September lalu bersama Riawan, Abdul Basith, Mulyono, Laode Soegiono, Okto, Sony Santoso, dan lain-lain?:

Pertemuan di rumah saya pada hari Jumat, tanggal 20 September 2019, sekitar jam 20.25 sampai 22.30 WIB. Pertemuan tersebut untuk mempererat tali silaturahim atau ikatan persaudaraan antara para tamu dari berbagai komunitas maupun tokoh masyarakat, agar bisa saling mengenal satu sama lain.

Benarkah dalam obrolan itu, Bapak menyatakan selama ini yang memicu persoalan di negeri ini adalah keberadaan orang-orang Cina maupun keturunannya yang ada di Indonesia?:

Saya menyatakan bahwa akhir-akhir ini kesenjangan ekonomi masih menghantui Indonesia, satu persen warga kaya menguasai 50,3 persen aset atau kekayaan nasional sebagaimana yang dinyatakan oleh Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandiaga Uno pada saat debat Capres-Cawapres lalu, dan oleh karenanya negara harus hadir untuk meningkatkan pemerataan ekonomi rakyat Indonesia.

Untuk mengusik orang-orang Cina di Indonesia itu, benarkah Bapak menyatakan harus dibikin suatu “letusan”? Seperti apa letusan tersebut?:

Tidak ada pernyataan semacam itu.

Para kolega Bapak yang hadir dalam pertemuan lantas merencanakan pembuatan bom ikan untuk merealisasikan seruan letusan tersebut? Ada tujuh titik yang dipilih? Dimana saja?:

Tidak ada rencana apapun semacam itu.

Aksi ini awalnya direncanakan pada tanggal 24 September, bersamaan dengan aksi mahasiswa. Namun mengapa mundur sampai 28 September? Benarkah karena pembuat bom ikanya baru bisa didatangkan 24 September?:

Tidak ada rencana apapun semacam itu.

Para nelayan pembuat bom ikan itu mengaku mendapat perintah untuk memasukkan paku ke dalam bom. Atas perintah siapakah itu?:

Tidak ada perintah apapun semacam itu.

Dari mana dana yang digunakan untuk operasional pembuatan bom hingga mendatangkan para pembuat bom ikan itu?:

Tidak ada dana apapun semacam itu.

Sejauh mana Bapak mengenal Pak Riawan, Pak Sonny Santoso, Pak Slamet Soebijanto, Pak Mulyono, Pak Abdul Basith, Pak Laode Soegiono?:

Saya kenal dengan Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto – saat saya masih berdinas sebagai Tentara Nasional Indonesia, lebih kurang 10 tahun yang lalu, dan hubungan kami sebagai sesama anggota Tentara Nasional Indonesia.

Saya kenal Pak Riawan, Pak Mulyono dan Pak Abdul Basith lebih kurang 3 bulan yang lalu.

Saya kenal Pak Laode Soegiono, pada saat yang bersangkutan hadir silaturahim di tempat kediaman saya pada hari Jumat, tanggal 20 September 2019, sekitar jam 20.25 WIB sampai 22.30 WIB.

Benarkah dalam pertemuan itu juga dibahas mengenai ajakan kepada para tentara di Mabes Cilangkap untuk ikut turun aksi?:

Tidak ada ajakan semacam itu.

Saya menyampaikan informasi kepada para tamu yang hadir bahwa Laksamana TNI AL (Purn) Slamet Soebijanto berencana untuk bertemu dengan Panglima TNI Marsekal TNI AU Hadi Tjahjanto di Mabes TNI, guna menyampaikan saran agar TNI bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia melindungi dan mengawal aksi damai demo mahasiswa dan masyarakat di depan Gedung DPR RI/MPR RI. Tidak bersikap arogan dan terpancing oleh perilaku massa aksi demo damai. Tidak melakukan kekerasan fisik terhadap para mahasiswa atau masyarakat yang melakukan aksi demo damai.

Bagaimana kondisi negara ini menurut Bapak?:

Saya prihatin atas kondisi negara saat ini, karena timbul belbagai persoalan hukum terkait dengan proses penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, dan gejala krisis ekonomi terkait utang BUMN yang berdampak kepada bangsa dan negara ini, serta gejala disintegrasi dalam masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Apakah Bapak ada komunikasi dengan Pak Gatot mengenai aksi “letusan ini?:

Tidak ada komunikasi apapun dengan Pak Gatot, oleh karena memang tidak ada rencana apapun semacam itu

(dhe/pojoksatu/rmol)