Kembangkan Wirausaha Bidang Kehutanan, Pemdaprov Jabar Tanda Tangani Nota Kesepahaman Pengembangan Project Thrive

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Dinas Kehutanan dan Thrive terkait pengembangan Project Thrive, wirausaha sosial bidang kehutanan, di Gedung Sate Kota Bandung, Minggu (6/10/19).(FOTO : Humas Pemprov Jabar)
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Dinas Kehutanan dan Thrive terkait pengembangan Project Thrive, wirausaha sosial bidang kehutanan, di Gedung Sate Kota Bandung, Minggu (6/10/19).(FOTO : Humas Pemprov Jabar)

Pun lima kelompok usaha terpilih penghasil hasil hutan non-kayu itu hingga kini terus berupaya agar produk dan jasa yang ditawarkan bisa menjadi primadona Jawa Barat, Indonesia, dan dunia.

Beberapa produk dan jasa yang diangkat antara lain, kopi hutan, madu hutan, mangrove, jamur hutan, sop sayur kering, dan ekowisata.

Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Heather Variava sementara itu mengatakan, gotong royong, toleransi, dan kekuatan persatuan dalam keragaman adalah hal luar biasa yang sangat dihargainya dari Indonesia.

Apalagi, ‘Bhineka Tunggal Ika’ menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar nomor tiga di dunia, satu posisi di bawah Amerika Serikat sebagai negara demokrasi terbesar nomor dua dunia.


Variava pun memuji Jabar dalam berbagai proyek di bidang olahraga, kesehatan masyarakat, lokakarya, juga dengan universitas untuk sejumlah penelitian dan kerja sama di bidang pendidikan.

“Di Jawa Barat, Amerika Serikat bangga atas kerja sama yang melibatkan warga Jabar juga universitas dalam berbagai proyek,” kata Variava.

Adapun menurut Ketua Pelaksana Project Thrive Gita Syahrani, tantangan terberat yang dihadapi oleh pelaku usaha mikro untuk meraih sukses di antaranya model bisnis dan rencana keuangan, akses penjualan, dan pelabelan.

“Upaya kolektif ini akan membuat para partisipan dapat mengakses beberapa jaringan selama dan setelah siklus proyek ini,” ucap Gita.

Untuk itu, pihaknya melalui pendekatan yang ditawarkan oleh upaya kolektif di bawah Project Thrive juga bermaksud untuk meningkatkan konektivitas para pelaku usaha mikro dalam supply chain, dalam mengembangkan bisnisnya.

Dengan pendekatan ini, lebih dari 70 wirausaha mikro lokal di Jawa Barat telah didampingi selama lima tahun, termasuk beberapa wirausaha yang mampu berbisnis dalam lingkup transaksi nasional, regional, dan perdagangan global.

(adv/dia/pojoksatu)