Seringnya Kecelakaan di Tol Cipularang Disebabkan Mistis? Pakarnya Angkat Bicara

Kecelakaan Tol Cipularang. Foto net
Kecelakaan Tol Cipularang. Foto net

POJOKSATU.id, BANDUNG – Banyaknya kecelakaan yang terjadi di Tol Cipularang menimbulkan berbagai asumsi publik. Mulai dari mistis hingga kesalahan struktur jalan.


Dari segi mistis, sejumlah cerita tragedi kecelakaan yang terjadi di ruas Tol Cipularang khususnya di kilometer 90-an banyak diasumsikan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh gangguan makhluk tak kasat mata.

Tak sedikit yang mempercayai bahwa para korban kecelakaan merupakan tumbal bagi makhluk penunggu Tol Cipularang.


Bukan tanpa alasan hal tersebut muncul ke permukaan, pasalnya banyak cerita yang bertebaran di masyarakat akan mitos-mitos di kawasan tersebut.

Namun terlepas dari segala mitos yang ada tentang penyebab terjadinya kecelakaan yang kerap terjadi di Tol Cipularang, para ahli dan akademisi berpendapat bahwa, kecelakaan yang terjadi di Tol Cipularang merupakan hal yang biasa.

Hal ini karena kontur jalan di wilayah tersebut merupakan kontur tanah perbukitan sehingga banyak tanjakan dan turunan yang curam yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kendaraan bila para pengemudi kurang berhati-hati.

Hal tersebut dijelaskan pakar yang juga konsultan pembangunan jalan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Eka Satria.

Menurutya banyaknya kecelakaan di wilayah Tol Cipularang, khususnya di wilayah Purwakarta berkaitan dengan kontur tanah yang cukup ekstrim.

“Secara garis besar, untuk daerah Purwakarta merupakan termasuk kontur yang tinggi, perbedaan kontur yang terlalu jauh menyebabkan perencanaan trase jalan harus disesuaikan dengan standar perencanaan yang sudah di tetapkan,” jelasnya, Jumat (6/9/2019).

Untuk kasus ini, kecepatan kendaraan juga diperhitungkan secara standar bina marga.

“Terdapat kelas jalan yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan. Semua standar terdapat pada perencanaan geometrik jalan dari DPU (Dinas Pekerjaan Umum),” jelasnya.

Lebih lanjut,selain faktor jalan, harus juga ditumbuhkan kesadaran masyarakat agar berkendara sesuai aturan yang ada.

“Artinya masyarakat harus paham terkait rambu yang terpasang di bahu jalan antara lain masalah kecepatan kendaraan,” paparnya.

Faktor kesadaran dari para pengendara sangat penting. Selain itu, harus juga ada penambahan rambu, baik rambu mati maupun rambu aktif.

“Seperti pemberitahuan lampu led. Yang tak kalah penting yakni pengecekan beban muatan atau jembatan timbang (khusus truk dan muatan besar) sangatlah diperlukan,” tegasnya.

Terkait perbaikan kontur jalan, dirinya merasa itu amat sangat sukit dilakukan, namun bukan juga tidak mungkin pasalnya perbaikan kontur jalan tersebut akan memakan anggaran yang sangat besar.

“Untuk perbaikan kontur jalan, itu sudah tertuang pada perwncanaan jalannya, ataupun ada perbaikan jalan agak sulit.
Karena kalau perbaikan kontur akan menelan banyak biaya karena akan ada pkerjaan cut and fill atau potong kontur atau potong gunung istilahnya,” tutup Eka.

(rif/pojoksatu)