Pakar ITB Beberkan Penyebab Seringnya Kecelakaan di Tol Cipularang, Bukan Salah Jalannya

tol cipularang
Truk Ekspedisi Terbakar di Tol Cipularang. Foto: Radar Karawang

POJOKSATU.id, BANDUNG – Dosen Program Studi Teknik Sipil Institut Tekhnologi Bandung (ITB) Dr Sony Sulaksono Wibowo mengatakan, kecelakaan lalulintas bukan dikarenakan satu faktor saja.


Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah kecelakaan terjadi.

“Setiap kecelakaan lalulintas selalu melibatkan satu atau beberapa faktor dari empat faktor, yaitu faktor manusia, faktor kendaraan, faktor jalan, dan kondisi alam,” papar Sony, Jumat (6/9/2019).


Menurutnya, kondisi di Tol Cipularang terbilang cukup baik. Akan tetapi, ada catatan yang menurutnya harus jadi perhatian.

“Muatan kendaraan yang berlebihan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan dan mengakibatkan pendeknya (rusak) jalan tersebut,” papar Sony.

Dalam banyak kasus kecelakaan di jalan tol di Indonesia, faktor manusia dan kendaraan cukup dominan sebagai penyebab kecelakaan dibandingkan dengan faktor kondisi jalan serta kondisi alam.

“Saat ini infrastruktur jalan di segmen (jalan tol) tersebut relatif cukup baik,” ujarnya.

Untuk Rambu batasan kecepatan dan pita pengaduh (rumble strips) sudah cukup tersedia dan itu sebenarnya sudah cukup.

“Ada pendapat perlu ditambahkan flashing yellow light (lampu kuning yang kelap kelip) namun hal tersebut kurang lazim di ruas jalan yang relatif bebas hambatan seperti jalan tol,” jelasnya.

Jalan Tol Cipularang KM 90an arah Jakarta tersebut umumnya lurus dan menurun.

Kondisi ini cenderung mendorong pengemudi untuk memacu kendaraannya.

“Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian tersebut adalah bahwa jalan tol bukan untuk memacu kendaraan (dengan kecepatan tinggi,” tegasnya.

Aturan batasan kecepatan dan menjaga jarak kendaraan sangat penting diperhatikan, khususnya jika ada kendaraan besar di depan.

Jalan lurus dan menurun harus diwaspadai karena kendali kendaraan lebih sulit daripada kondisi jalan mendatar, serta masalah over dimension over loading (ODOL).

“Hal yang menjadi perhatian utama di kecelakaan tersebut adalah kelaikan kendaraan (truk) yang overloading,” ingatnya.

Saat ini, truk over dimension over loading (ODOL) menjadi perhatian utama karena selain menyebabkan percepatan kerusakan jalan, juga rawan kecelakaan.

Umumnya truk ODOL adalah truk modifikasi yang belum tentu modifikasinya termasuk penyesuaian komponen-komponen yang terkait keselamatan.

“Seperti kapasitas rem, kekuatan as, sudut kaca spion, jenis ban, dan lainnya,” jelasnya.

Kendati demikian, jelasnya, masalah truk ODOL ini sejatinya tidak murni kewenangan Dinas Perhubungan.

“Yang dapat (Dinas) Perhubungan lakukan hanya masalah di hilir, sementara di hulu lebih banyak dalam kewenangan perindustrian dan juga perdagangan,” beber Sony.

Atas berbagai pertimbangan tersebut, dirinya tak setuju jika kondisi jalan Tol Cipularang menjadi ‘kambing hitam’.

“Prinsipnya, teknologi yang terkait dengan jalan tidak ada yang spesifik. Isu kecelakaan tersebut sudah berkembang ke masalah kendaraan yang overloading,” pungkasnya.

(rif/pojoksatu)