4 Saudara Hilang 5 Tahun, Ternyata Dibunuh Kakak Kandung, Motifnya Tanah Warisan

Kerangka korban pembunuhan di Banyumas
Kerangka korban pembunuhan di Banyumas

POJOKSATU.id, BANYUMAS – Misteri hilangnya 4 orang yang masih satu keluarga di Banyumas selama lima tahun akhirnya terungkap. Empat bersaudara itu ternyata dibunuh oleh saudara kandung mereka sendiri.


Empat korban pembunuhan itu yakni Supratno alias Ratno (51), Sugiono alias Yono (46), Heri Sutiawan alias Heri (41), dan Vivin Dwi Loveana alias Pipin (22).

Ratno, Yono, dan Heri adalah saudara kandung. Sedangkan Pipin adalah anak dari Ratno yang saat itu berstatus mahasiswi.

Otak pembunuhan satu keluarga itu ternyata kakak kandung korban, Saminah (53), warga Grumbul Karanggandul, Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas.


Saminah memerintahkan tiga anaknya, Sania Roulitas alias Sania (37), Irvan Firmansyah alias Irvan (32), dan Achmad Saputra alias Putra (27) untuk menghabisi para korban.

Motif pembunuhan yakni tanah warisan. Saminah ingin menguasai tanah warisan orang tuanya, Misem.

Para korban dihabisi keluarga Saminah pada 9 Oktober 2014 lalu. Sebelum dilakukan pembunuhan, Saminah meminta ibunya, Misem untuk tinggal sementara di rumahnya yang jaraknya sekitar lima meter.

Setelah Misem berada di rumah Saminah, Irvan dan Putra ke rumah Misem. Pembunuhan pertama dilakukan saat Sugiono usai mandi, siang hari.

Saat Sugiono keluar dari kamar mandi. Irvan langsung memukul kepala Sugiono dengan potongan besi bekas dongkrak secara bertubi-tubi.

Sugiono saat itu melakukan perlawanan, namun tak dapat berbuat banyak lantaran Putra menghantamkan tabung gas elpiji 3 kg ke kepalanya.

Setelah dipastikan meninggal, jasad Sugiono dibawa ke salah satu kamar.

“Sebelum membunuh Sugiono memang ada percekcokan, sehingga ada tetangga yang mendengar dan menghampiri rumahnya. Namun tetangganya ditemui Saminah dan menenangkan jika sudah tidak terjadi apa-apa,” jelas Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun.

Tak berselang lama, Supratno yang merupakan pegawai TU perpustakaan SMP Negeri 4 Banyumas ini datang dan langsung dibunuh dengan cara yang sama seperti Sugiono.

Begitu juga dengan Heri yang datang berikutnya. Mayat ketiganya lalu dikumpulkan di kamar yang sama.

Tersangka sebenarnya tidak ada niat untuk membunuh Pipin yang pada saat itu merupakan mahasiswi IAIN Purwokerto.

Saat itu Irvan mengirim pesan SMS kepada Pipin dengan handphone Ratno untuk tidak pulang ke rumah. Namun belum sempat dibalas, Pipin sudah tiba di rumah. Pembunuhan keempat pun dilakukan.

“Semuanya dengan cara yang sama, Irvan memukul dengan menggunakan besi, dan Putra memukul dengan menggunakan tabung gas elpiji,” kata Kapolres.

Setelah membunuh keempat korban, pada malam harinya Irvan dan Putra menggali lubang dengan panjang 1,5 meter, lebar 1,4 meter, dan kedalaman 40 cm di belakang rumah Misem.

Lubang tersebut digunakan untuk mengubur keempat mayat tersebut. Tak hanya mengubur, sebelum diuruk dengan tanah, Irvan dan Putra mengecornya dengan semen.

Usai eksekusi, Irvan dan Putra juga mengubur potongan besi dan tabung elpiji tak jauh dari tempat dikuburnya keempat korban. Usai pembunuhan, dua sepeda motor milik Ratno dan Vivin dijual Sania seharga Rp 5 juta.

Setelah lima tahun berlalu, kasus ini terungkap setelah jenazah para korban ditemukan secara tidak sengaja di kebun belakang rumah Misem.

Saat itu, tetangga Misem bernama Rasman membersihkan lokasi tersebut, Sabtu (24/8) lalu. Rasman tak sengaja menemuka kerangka manusia, kemudian dilaporkan ke polisi.

(one/radarbanyumas/pojoksatu)