Dosen Cabuli 6 Mahasiswi Akhirnya Dipecat, Terancam 9 Tahun Penjara

PS, dosen Universitas Palangka Raya diperiksa polisi
PS, dosen Universitas Palangka Raya diperiksa polisi

POJOKSATU.id, PALANGKA RAYA – Oknom dosen yang cabuli 6 mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR) dipecat dari jabatannya sebagai Ketua Program Studi Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UPR.


Oknum dosen berinisial PS dipecat setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Kalteng.

”Dosen bersangkutan, yakni PS kami berhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Program Studi Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Artinya, yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai Kaprodi,” kata Wakil Rektor Bidang Hukum Organisasi SDM dan Kemahasiswaan Suandi Sidauruk.

Dia menuturkan, sejak 29 Juli lalu, sekitar enam mahasiswi melaporkan perbuatan oknum dosen tersebut kepada Dekan FKIP UPR. Kemudian, pada 31 Juli 2019, Dekan FKIP UPR melakukan rapat bersama pimpinan fakultas. Hasil tersebut, kemudian diserahkan kepada rektor.


”Pada 5 Agustus 2019, dekan membawa enam mahasiswi itu bertemu rektor bersama Satuan Pengawas Internal. Kemudian, rapat bersama seluruh wakil rektor dan menghasilkan kesepakatan untuk membentuk tim investigasi. Tim investigasi terdiri dari lima guru besar dan melahirkan kesimpulan,” katanya.

Dia menuturkan, pada 22 Agustus 2019, surat pemberhentian yang bersangkutan sebagai Ketua Prodi ditetapkan dengan surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 375/UN24/KP/2019.

”UPR mendukung proses hukum yang bersangkutan, namun harus mengedepankan asas praduga tak bersalah,” katanya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Hendra Rochmawan mengatakan, oknum dosen tersebut dikenakan Pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara.

“Tersangka PS dan saksi sudah diperiksa,” katany, seperti dilansir Prokal, Sabtu (31/8/2019).

Mahasiswi korban pencabulan dosen mengadu ke Damang Pahandut, Marcos Tuwan
Mahasiswi korban pencabulan dosen mengadu ke Damang Pahandut, Marcos Tuwan

Selain mengadu pada polisi, sejumlah mahasiswi juga mengadu ke Damang Pahandut, Marcos Tuwan.

Menurutnya, pelecehan seksual itu terjadi saat oknum dosen tersebut memanggil mahasiswi yang ingin konsultasi terkait proses perkuliahan di ruang kerja oknum tersebut.

Marcos menegaskan, siap mengawal korban agar proses hukum terus berlanjut.
”Kasus ini harus dituntaskan dan lakukan P 21 ke kejaksaan,” tegasnya.

Menurut Marcos, korban yang sudah melapor ke Polda sebanyak enam orang. Korban lainnya di luar itu diduga mencapai puluhan orang. Akibat pelecehan itu, sebagian korban trauma.

Marcos menuturkan, pelecehan yang dilakukan terduga di dalam ruangan itu ternyata sudah berlangsung lama hingga tahunan.

”Ini sangat memalukan dan korban sementara saya rahasiakan, sebab mereka dalam kondisi trauma dan ketakutan,” katanya.

(sos/ign/prokal/pojoksatu)