Nasi Sudah jadi Bubur, Ini 5 Solusi Tangani Rusuh Manokwari dan Sorong dari Aktivis HAM Papua

Rusuh Manokwari
Rusuh Manokwari

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua, Yohanes Jonga menilai, setidaknya ada dua akar masalah dalam konflik yang berujung kerusuhan di Manokwari dan Sorong, Papua Barat.

Pertama, adanya rasisme berupa panggilan ‘monyet’ kepada mahasiswa Papua di Jawa Timur yang membuat pihak keluarga merasa terhina lantaran sanak saudaranya diperlakukan seperti itu.

“Menurut mereka, bukan baru pertama. Sudah beberapa kali,” ujar Yohanes saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (20/8).

BACA: Sorong Kembali Bergejolak, Anggota Dihujani Batu, Mabes Polri Klaim Sudah Kondusif


Jika benar demikian, maka ia menganggap hal itu cukup memalukan.

“Sehingga kalau benar seperti itu, memang sangat memalukan apalagi jika terjadi di Jawa, di Surabaya yang kami anggap SDM intelektual sudah tinggi,” lanjutnya.

Faktor kedua, yang dia dengar dari masyarakat di Papua, yakni kekecewaa mereka atas sikap pemerintah kepada masyarakat Papua, khususnya yang berada di daerah pedalaman, seperti Nduga.

“Semacam pemerintah membiarkan orang-orang Nduga mati sakit di hutan,” terangnya.

BACA: Bukan Cuma Rasis, Rakyat Papua Kecewa Pada Pemerintah Juga Karena Urusan Ini, Catat!

Akan tetapi, Yohanes membantah jika unjuk rasa turut ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengakibatkan kerusuhan terjadi.

“Masih murni keprihatinan orang tua dan masyarakat Papua terhadap anak-anak mereka yang sekarang ada di Jawa,” imbuhnya.