Mbah Moen Tahu Sebelum Meninggal, Sebut Tanggal Wafatnya kepada Calhaj Indonesia

Shodiqun saat sowan ke KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen di hotel tempatnya menginap di Mekkah, Arab Saudi. Foto NU Online
Shodiqun saat sowan ke KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen di hotel tempatnya menginap di Mekkah, Arab Saudi. Foto NU Online

POJOKSATU.id, JAKARTA – Berpulangnya KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen menjadi kabar yang sangat menyedihkan di Tanah Air. Terlebih, tidak ada tanda-tanda sakit sebelumnya.

Namun sepertinya, Mbah Moen sudah memberikan isyarat sebelum ia berpulang ke Rahmatullah. Isyarat itu ia sampaikan kepada salah seorang calon jemaah haji asal Indonesia.

Adalah Shodiqun, calhaj asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah yang mendapat isyarat dari Kiai kharismatik tersebut.

Shodiqun menceritakan, saat itu ia diberitahu bahwa Mbah Moen juga melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci dari kakaknya, Ahmad Dimyati.


Kakaknya berpesan, agar dirinya sowan ke Mbah Moen dengan mengunjungi hotel tempat ulama itu menginap.

Setelah berkomunikasi, Shodiqun berencana sowan bersama Gus Alwi bin KH Muslih asal Duwok, Tegalrejo, usai shalat Jumat (2/8).

Sayangnya, Gus Alwi batal sowan lantaran terhadang lalu lintas yang macet sehingga tak bisa sampai ke maktab Mbah Moen.

Karena itu, Gus Alwi menitipkan kepada Shodiqun agar menanyakan sampai kapan Mbah Moen akan tinggal di Mekkah.

“Ngapunten Mbah, mangke wonten mriki dugi kapan njih? (maaf Mbah, tinggal di sini sampai kapan, ya?)” tanya Shodiqun kepada sang Kiai.

Mendapat pertanyaan itu, Mbah Moen tegas menjawab.

“Tekan tanggal limo (sampai tanggal lima),” jawabnya.

Shodiqun mengaku jawaban sang Kiai itu cukup janggal. Pasalnya, proses ibadah haji jika dihitung menurut kalender Hijriah maupun Masehi, baru selesai dalam tanggal belasan.

Akan tetapi, ia berfikir mungkin maksudnya adalah Mbah Moen akan ada di hotel tersebut sampai dengan tanggal lima.

Pada Selasa (6/8) menjelang subuh, Shodiqun merasakan kejanggalan lagi, yakni hujan deras di Masjidil Haram yang terjadi di musim panas.

“Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini?” ungkapnya.

Namun selanjutnya, ia baru manyadari maksud ‘tanggal lima’ setelah mendapat kabar wafatnya Mbah Moen di hari itu.

Pasalnya, tepat tanggal 5 5 Dzulhijjah 1440 Hijriah atau 6 Agustus 2019, Mbah Moen memang telah pergi. Bukan meninggalkan Mekkah, tapi dipanggil Rahmatullah.

Mbah Moen menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (6/8) pukul 04.17 waktu setempat.

(Ahmad Mundzir/nuonline/ruh/pojoksatu)