Komunitas 22 Ibu Perkenalkan Olahan Biji Klungsu untuk Material Batik di Eropa

Ridwan Kamil bersama Duta Besar Bagas Hapsoro didampingi istri, serta Cama Juli Rianingrum dan Atridia Wilastrina dari Komunitas 22 Ibu yang sekaligus sebagai perwakilan dari Universitas Trisakti.
Ridwan Kamil bersama Duta Besar Bagas Hapsoro didampingi istri, serta Cama Juli Rianingrum dan Atridia Wilastrina dari Komunitas 22 Ibu yang sekaligus sebagai perwakilan dari Universitas Trisakti.

POJOKSATU.id, Swedia – Komunitas 22 Ibu turut meramaikan kegiatan Kampong Indonesia di Kungstradgarden Stockholm-Swedia 26-27/7/2019). Berdasarkan undangan dari Duta Besar Sweden, Hapsoro, mereka yang tergabung dalam Komunitas 22 Ibu itu menggelar pameran seni berbahan biji klungsu yang diolah menjadi material untuk membuat batik.


Hadir mewakili Perguruan Tinggi dari Indonesia adalah Ariesa Pandanwangi (Universitas Kristen Maranatha), Cama Juli Rianingrum dan Atridia Wilastrina (Universitas Trisakti), Nuning Yanti Damayanti (ITB) dan Arleti Mochtar Apin ( Institut Teknologi Harapan Bangsa).

Kampong Indonesia dibuka Jumat (26/7/2019) oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terimakasih kepada sejumlah pihak yang mendukung, seperti Angklung Saung Udjo, APTISI yang diwakili oleh hadirnya sembilan Rektor dari Perguruan Tinggi, Komunitas 22 Ibu, hingga para sponsor.

Pameran ini mengusung 35 karya pendidik dari Indonesia, serta menggelar batik bercerita dari Nusantara yang dibuat berdasarkan hasil kolaborasi riset lintas perguruan tinggi dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi.


Komunitas 22 Ibu. (FOTO : istimewa)
Komunitas 22 Ibu. (FOTO : istimewa)

Ariesa Pandanwangi, salah satu perwakilan dalam pameran ini mengatakan, sedikitnya ada lima tujuan penyelenggaraan kegiatan ini. Pertama, mensosialisasikan material kearifan lokal dari tumbuhan di Indonesia yang dapat diolah menjadi material batik serta menjadi media pembelajaran bagi anak anak sekolah masyarakat umum di luar negeri. Kedua,  menyampaikan pesan moral yang disampaikan melalui narasi visual.

Ketiga, menjadi ajang sumber penyebaran ilmu pengetahuan tentang pengembangan teknik batik lilin dingin ke dunia luar. Keempat, meningkatkan apresiasi masyarakat Eropa melalui sejarah kejadian yang bercerita dari wilayah Indonesia. Serta yang terakhir untuk meningkatkan hubungan baik dalam kerjasama antara perupa dengan pihak Kedutaan Besar Indonesia di Luar Negeri

Adapun penciptaan yang digagas dalam pameran ini adalah Cerita Mitos dan Cerita Legenda dari Indonesia.

Mitos dan Legenda

Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya.