Eehh…Ada yang Kelojotan Lihat Prabowo dan Jokowi Ketemuan dan Akrab

Prabowo Subianto dan Joko Widodo akrab dalam gerbong MRT usai bertemu di Stasiun MRT, Lebak Bulus, Jakarta
Prabowo Subianto dan Joko Widodo akrab dalam gerbong MRT usai bertemu di Stasiun MRT, Lebak Bulus, Jakarta

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertemuan antara Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto merupakan momen yang ditunggu rakyat Indonesia.


Pertemuan itu dianggap publik menjadi pembongkar polarisasi di tengah masyarakat yang terjadi akibat kontestasi Pilpres 2019 lalu.

Akan tetapi, ada pihak atau kelompok yang tak terima dengan pertemuan kedua tokoh sentral tersebut.

Pasalnya, saat Prabowo dan Jokowi akrab dan guyub, kelompok itu malah makin terpojok.


Demikian disampaikan pengamat politik Rafif Pamenang Imawan dalam pesan singkatnya, Selasa (16/7/2019).

Menurutnya, kelompok dimaksud adalah kelompok antidemokrasi atau radikal.

“Kelompok antidemokrasi tersudut usai pertemuan Jokowo-Prabowo,” ujar Rafif.

Alasan lain yang membuat kelompok itu kalang kabut adalah lantaran mereka tak bisa lagi membuat manuver poitik setelah keduanya guyub.

Terlebih lagi, Jokowi dan Prabowo sama-sama menegaskan komitmen mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa ke depannya.

Dengan pertemuan itu pula, kelompok blok kepentingan politik praktis seperti Partai Gerindra, maka permasalahan pemilu adalah sudah selesai.

“Namun bagi organisasi radikal, momentumnya telah hilang,” ulasnya.

Di sisi lain, Rafif juga menyoroti peran partai dan organisasi kemasyarakatan agar eksistensi kelompok antidemokrasi semakin mengecil.

Baik partai dan ormas harus memperkuat hubungan agar kelompok antidemokrasi tidak menyusup.

“Perlu untuk memperkuat hubungan antara parpol dan ormas sehingga kanal agregasi politik bisa terkumpul di parpol,” saran dia.

“Dengan cara ini, organisasi antidemokrasi dapat kehilangan ruang gerak,” pungkasnya.

(jpnn/ruh/pojoksatu)