Rekayasa Satu Arah Sukajadi-Setiabudi Dikeluhkan Warga, Ini Jawaban Polrestabes Bandung

Kasatlantas Polrestabes Bandung, AKBP Agung Reza memaparkan hasil evaluasi rekayasa satu arah Sukajadi-Setiabudi di Pemkot Bandung, Selasa (16/7/2019). Foto: Arief/PojokSatu.id
Kasatlantas Polrestabes Bandung, AKBP Agung Reza memaparkan hasil evaluasi rekayasa satu arah Sukajadi-Setiabudi di Pemkot Bandung, Selasa (16/7/2019). Foto: Arief/PojokSatu.id

POJOKSATU.id, BANDUNG – Pemkot Bandung bersama Satlantas Polrestabes Bandung memberlakukan rekayasa sistem saru arah di Jalan Sukajadi-Setiabudi-Cipaganti sejak tanggal 11 Juli 2019 lalu.

Akan tetapi, ujicoba rekayasa sistem satu arah yang dilaksanakan berdasarkan hasil kajian selama dua bulan terakhir itu menuai banyak protes dan keluhan dari warga.

Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza mengatakan, perihal rekayasa jalur Sukajadi-Setiabudi, Pemkot dan Polrestabes mendengar apa yang dikeluhkan masyarakat.

“Masukan cukup kami terima. Memang hal itu yang kita butuhkan, agar evaluasi itu bisa kita paparkan,” jelasnya ditemui di Pemkot Bandung, Selasa (16/7/2019).


Ditambahkan Kasatlantas, sejak hari pertama hingga hari ini, jalur utama rekayasa tidak mengalami masalah.

“Ada perubahan ya, dimana waktu jam per jam, memang ada macet di mana-mana,” jelasnya.

Resa menyebut, respon masyarakat terkait rekayasa satu arah itu cukup beragam.

“Ada yang menyebut rekayasa jalur Sukajadi-Setiabudi membuat macet. Yang mana yang macet, silahkan sampaikan kepada kami,” imbaunya.

Rza mengaku, kemacetan di jalur tersebut memang terjadi pada Kamis dan Jumat pekan lalu.

“Buktinya sekarang sudah lancar,” tuturnya.

Untuk penumpukan kendaraan, diakui pihaknya juga memang masih ada.

“Dampak dari rekayasa, yakni jalur muaranya, Pasteur Cokro yang memang harus evaluasi.
Mobil dari Cipaganti ke Oten menumpuk tetap saja di bawah jalan layang,” terangnya.

Karena itu, pihaknya akan merekayasa kembali untuk mengurai kemacetan di Pasteur Cokro jika memang berdampak.

“Jika berdampak, kita lakukan rekayasa juga. Contoh di Rajiman itu berdampak,” terangnya.

(rif/pojoksatu)