29 Wanita Dijual ke Tiongkok Jadi Istri Orang China, Ternyata…

Salah satu korban dari 29 wanita (bertopi merah) yang dijual ke Tiongkok dengan modus pernikahan pesanan. SBMI
Salah satu korban dari 29 wanita (bertopi merah) yang dijual ke Tiongkok dengan modus pernikahan pesanan. SBMI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tragis benar nasib 29 wanita asal Indonesia ini. Mereka menjadi menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan dijual ke Tiongkok.

Modusnya, puluhan wanita tersebut dijadikan istri orang China yang sebelumnya sudah ‘memesan’ lebih dulu.

Sekjen Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jakarta, Bobi Anwar Ma’arif mengatakan, pihaknya selama ini banyak menerima laporan korban TPPO dengan modus perkawinan pesanan.

“Di Jawa Barat, sejak 2016, sudah ada 16 orang korbannya. Satu dipulangkan, sisanya belum. Kami juga dampingi korban dari Kalimantan Barat,” ucap Bobi kepada awak media di gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (23/6).

Ke-29 wanita tersebut berasal dari dua daerah yang berbeda. Rinciannya, 13 wanita asal Kabupaten Senggau Kalimantan Barat. Sedang 16 lainya berasal dari Jawa Barat.

Dalam aksinya, para agen atau yang dikenal dengan sebutan makcomblang bergerak di dua wilayah tersebut dan di Jakarta. Sedangkan targetnya, adalah para wanita di desa-desa yang terpencil.

Untuk meyakinkan para calon korban-korbannya, makcomblang tersebut menawari berbagai macam iming-iming menggiurkan.

Selain itu, mereka juga dijanjikan kesejahteraan kehidupan keluarganya serta dibebaskan saat sudah menikah dengan pria-pria asal China.

“Di desa-desa itu, pertama korban yang kita temukan banyak direkrut, mereka masuk desa mencari target yang SDM-nya jauh. Jauh dari internet dan mencari target orang yang membutuhkan (uang),” bebernya.

Lebih tragis lagi, 29 wanita yang jadi korban TPPO itu hanya menerima Rp20 juta saja untuk keluarga mereka. Padahal, pria Tiongkok yang menjadikan mereka istri mengeluarkan uang sampai dengan Rp400 juta.

“Korban akan dinikahi dengan orang China. Di Indonesia dihargai oleh agen Rp400 juta dan dibagi ke agen lain hingga ke perekrut sudah nyebar ke desa-desa,” tuturnya.

Para pelaku TPPO ini juga disebut Bobi cukup rapih. Pasalnya, mereka sudah memiliki sejumlah perangkat untuk melancarkan aksinya itu.

“Misalnya wali nikah palsu, menyediakan event untuk wedding, menyediakan acara resepsi, sampai menyediakan fasilitas tinggal di hotel,” ungkapnya.

Setelah melakukan pernikahan palsu di Indonesia, para wanita tersebut langsung diboyong ke Tiongk dengan menggunakan dokumen yang sudah dipalsukan oleh para pelaku.

Sayangnya, saat berada di Tiongkok, para wanita itu tak dianggap istri sepenuhnya.

Sebaliknya, mereka dipaksa bekerja di luar kewajaran. Yakni mulai pukul 7 pagi sampai 6 sore. Selanjutnya diberi kesempatan beristirat sebentar, lalu lanjut bekerja sampai pukul 9 malam.

“Di sana, korban dijadikan pekerja tanpa adanya uang bayaran serta mendapatkan perlakuan kekerasan oleh suaminya atau pria Tiongkok yang menikahinya,” jelasnya.

Tak hanya itu, saat menolak melakukan hubungan seksual, para wanita itu malah mendapatkan kekerasan.

“Akibatnya, teman-teman menolak hubungan seksual. Ketika menolak, dipukul dan berbagai macam bentuk kekerasan fisik lainnya,” jelasnya.

Sampai saat ini, SBMI baru berhasil memulangkan kembali sebanyak sembilan korban asal Kalimantan Barat dan satu korban asal Jawa Barat.

(jpg/ruh/pojoksatu)

Loading...