Prabowo Sambat Dicurangi ke Media Asing, BPN: Penyelenggara Pemilu dan Aparat Hukum Gak Netral

Prabowo Subianto deklrasi kemenangan bersama Sandiaga Uno di kediamannya mendahului hasil penghitungan KPU
Prabowo Subianto deklrasi kemenangan bersama Sandiaga Uno di kediamannya mendahului hasil penghitungan KPU

POJOKSATU.id, JAKARTA – Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah wartawan dari media asing di rumahnya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (6/5).

Pertemuan dengan wartawan media asing itu dilakukan untuk membeberkan adanya dugaan kecurangan Pilpres 2019 yang dialaminya.

Selain itu, juga agar dunia internasional menadpat informasi yang utuh terkait dugaan kecurangan-kecurangan yang ada.

Upaya tersebut, merupakan salah satu upaya Prabowo untuk menegakkan kebenaran dan keadilan terkait pesta demokrasi tersebut.


BACA: Prabowo Kumpulkan Wartawan Media Asing di Rumahnya, Sambat terus Ngaku Dicurangi

Demikian disapaikan anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo, dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Selasa (7/5/2019).

Wakil Ketua Dewan kehormatan Partai Amanat nasional itu menyebut, penyelenggaraan Pemilu 2019 sangat amburadul.

“Mulai dari kardus hingga Situng semuanya berantakan,” katanya.

Menurutya, sejak penyelenggaraan Pemilu 2004, sepengatahuannya, pemilu kali ini menjadi yang paling kacau.

“Saya sudah menjadi kontestan pemilu sejak 2004, jadi saya bisa merasakan pemilu kali ini adalah yang paling amburadul” katanya lagi.

BACA: Sandiaga Uno Penasaran ‘Setan Gundul’ Andi Arief: Orang yang Ikut Deklarasi di Depan Rumah Prabowo?

Anak buah Amien Rais itu menegaskan, pihaknya meragukan kapasitas dan netralitas penyelenggara pemilu dan aparat hukum di Indonesia.

Kendati demikian, lanjutnya, pihaknya tetap memilih mentaati jalur konstitusi.

Yakni dengan selalu melaporkan semua kelemahan, kejanggalan, kesalahan dan kecurangan selalu dilaporkan ke lembaga terkait seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

“Meski kita tahu bahwa mereka dan aparat penegak hukum sangat pantas diragukan netralitasnya, jalur ini tetap ditempuh,” ucapnya.

Drajad mengungkap, dipilihan media asing sebagai tempat ‘curhat dan sambat’ Prabowo terkait dugaan kecurangan memiliki alasan tersendiri.

BACA: Sandiaga Uno Penasaran ‘Setan Gundul’ Andi Arief: Orang yang Ikut Deklarasi di Depan Rumah Prabowo?

Menurutnya, semua pihak terkait yang berkepentingan dengan pilpres perlu diberi informasi juga.

Alasan lainnya, pihaknya menuding bahwa media per nasional sudah tidak netral.

“Itu sebabnya meskipun Prabowo-Sandi dan BPN tahu bahwa sebagian besar pers nasional tidak netral, informasi terkait temuan kesalahan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) tetap diberikan kepada mereka,” ucapnya.

Drajad menilai, media asing juga berkepentingan dengan pilpres Indonesia.

Pembaca media-media asing itu, selain pemerintah asing, juga birokrat, politisi, investor asing dan stakeholders lainnya.

BACA: Sandiaga Uno ke Andi Arief’, “Yang Mencuit Saya Keluarin 500 miliar untuk Prabowo Itu kan?”

“Investor asing misalkan perlu info yang akurat, misalkan tentang apakah bisa mengharapkan kepastian hukum di Indonesia jika pemilunya saja penuh kecurangan,” jelasnya.

Langkah itu ditekankannya lagi karena Prabowo-Sandi dan BPN paham betul kalau Indonesia tidak bisa hidup sendiri, dan tidak bisa hidup tanpa bekerja sama dengan negara-negara lain.

“Mereka berhak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Itulah yang dilakukan Prabowo-Sandi dan BPN,”

“Kita punya kewajiban memberikan informasi yang paling akurat kepada semua pihak terkait, baik di dalam maupun luar negeri, dan tentu saja terutama kepada rakyat Indonesia,” pungkas Dradjad.

(jpg/ruh/pojoksatu)