Supervisor Akui Hukum Sales Oppo Kunyah Terasi, Ternyata Ini Alasannya

Terasi, sales oppo
Terasi

POJOKSATU.id, TUBAN – Salah satu Supervisor Oppo di Tuban Jawa Timur, Dwi Prawoto Hadi membeberkan alasan memberikan hukuman kepada sales Oppo kunyah terasi hingga muntah-muntah.


Menurut Dwi, sanksi itu merupakan punishment bagi promotr Oppo yang tidak memenuhi target penjualan agar bisa lebih terpacu.

Dwi heran dengan tindakan sales Oppo, Gemilang Indra Yuliarti yang melaporkannya ke polisi dengan dalih mendapat sanksi tidak manusiawi dari supervisor.


Dwi menjelaskan, Gemilang sudah bergabung sebagai promotor Oppo sejak dua setengah tahun silam. Dia heran kenapa Gemilang baru sekarang mempermasalahkan hukuman tersebut.

“Kalau memang keberatan kenapa tidak protes sejak dulu, kok baru sekarang?” kata Dwi Prawoto keheranan.

Terkait pengelolaan uang kas yang juga dilaporkan ke polisi, dia mengaku bisa mempertanggungjawabkan seluruh pemasukan dan pengeluaran.

Selama ini, kata Dwi, seluruh uang kas dikelola baik oleh bendahara tim. Setiap ada pemasukan dan pengeluaran, seluruh laporan disebarkan ke grup medsos anggota tim.

“Setiap event pemasaran pakai uang kas dan itu semua jelas pertanggungjawabannya,” kata Dwi mengklarifikasi tuduhan tidak jelasnya pengelolaan uang kas.

BACA: Sales Oppo Dihukum Kunyah Terasi sampai Muntah Gara-gara Tak Capai Target

Di bagian lain, Dwi justru menyerang balik anak buahnya tersebut. Pria yang saat ini tinggal di Jalan Ngemplak, Kecamatan Semanding ini mengatakan, Gemilang satu-satunya promotor yang paling sulit diatur.

Menurutnya, Gemilang beberapa kali terlambat datang bekerja maupun saat briefing. Demikian juga saat diberi hukuman, Gemilang nyaris tidak pernah menjalankan hukuman yang diberikan.

“Gemilang sudah lama tidak pernah menaati hukuman dan promotor yang paling sulit diatur,” kata dia.

Dwi menambahkan, hukuman fisik, makan makanan yang tak lazim, dan denda tersebut merupakan kebijakan masing-masing area. Bukan standard operating procedure (SOP) dari perusahaan pusat.

Pemasaran Oppo di Tuban dilakukan sekitar 40 promotor atau sales di bawah naungan lima supervisor. Salah satunya Dwi.

Terkait polemik dalam tim, Dwi menyerahkan ke bagian human and resource development (HRD) perusahaannya.

“Untuk proses hukum akan kami taati sesuai prosedur,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales Oppo yang bernaung di bawah PT WIT.

Hukumannya mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran jika tak memenuhi target. Hukuman tersebut diberlakukan nyaris setiap hari.

Hukuman tidak manusiawi itu diberikan supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir.

Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban.

BACA: Sales Dihukum Kunyah Terasi, Begini Reaksi Oppo Indonesia

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Ketentuan saat itu, sales yang tidak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar.

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lazim. Seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi.

Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim.

Hukuman tersebut nyaris diberikan setiap hari. Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan.

Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut.

Selain hukuman tak manusiawi, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas.

(bj/yud/ds/yan/bet/jpr/pojoksatu)