Usai Ditetapkan Tersangka, Sekda Papua Akui Tampar Pegawai KPK

7 Kontainer Surat Suara
Raden Prabowo Argo Yuwono

POJOKSATU.id, JAKARTA- Polda Metro Jaya telah menetapkan tersangka terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintahan Provinsi Papua T.E.A Hery Dosinaen terkait kasus dugaan penganiayaan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


T.E.A Hery Dosinaen diketahui ikut terlibat melakukan kekerasan terhadap pegawai KPK bernama Muhammad Gilang Wicaksono di di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/2) lalu.

Kabid Humas Polda Metro Argo Yuwono mengatakan, dari hasil pemeriksaan yang bersangkutan mengaku melakukan pemukulan terhadap korban bernama Gilang.


“Dari keterangannya ia menampar korban,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (19/2).

Kendati demikian, tersangka tak membeberkan berapa kali melakukan penamparan tersebut. Yang jelas, kata Argo, dari kejadian itu sang korban mendapat luka memar di wajahnya.

“Kan ada luka memar di wajah korban,” ucap Argo.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintahan Provinsi Papua T.E.A Hery Dosinaen resmi ditetapkan sebagai tersangka pada Senin malam (18/2).

Penetapan Hery sebagai tersangka sudah sesuai prosedur penyelidikan. Apalagi beberapa alat bukti sudah terpenuhi.

Tak hanya itu, penyidik juga  sudah mengambil keterangan beberapa saksi  yaitu saksi ahli, dan saksi lainnya.

Hal itulah yang menjadi dasar penyidik menetapkan terduga pelaku menjadi tersangka.

Atas penetapam tersangka itu, Sekda Papua bisa dikenakan pasal Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukan 5 tahun penjara.

Untuk diketahui, kasus penganiayaan itu terungkap setelah salah satu penyelidik KPK bernama Gilang Wicaksono resmi membuat laporan ke Polda Metro Jaya, Minggu (3/2).

Aksi penganiayaan itu terjadi saat Gilang dan penyelidik KPK Indra melakukan pengintaian terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe.  Saat itu sedang berlangsung rapat bersama Ketua DPRD Papua, anggota DPRD Papua Sekretaris Daerah (Sekda) dan sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Hotel Borobudur.

Pengintaian itu dilakukan karena kedua penyelidik KPK itu sedang mendapatkan tugas untuk menelusuri adanya dugaan korupsi anggaran di Papua.

(fir/pojoksatu)