Penganiayaan Anggota KPK: Bukti Percakapan Dihapus, Pengacara Beberkan Sandiwara KPK

Situasi di Polda Metro Jaya sebelum kedatangan massa Amien Rais.

POJOKSATU.id, JAKARTA- Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Papua Hery Dosinaen akhirnya penuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya.


Hery yang didampingi memenuhi Kuasa Hukum Pemprov Papua, Stefanus Roy Rening, datang dengan membawa beberapa alat bukti terkait kasus dugaan penganiayaan pegawai KPK.

Stefanus Roy mengatakan, pihaknya akan menyerahkan beberapa alat bukti yang yang diduga dituduhkan pihak KPK terkait penganiayaan tersebut.


Alat bukti itu berupa tas ransel berwarna hitam yang dicurigai berisi uang sogokan.

“Tas inilah yang menjadi sasaran utama OTT malam itu, yang dicurigai berisi uang. Padahal, saat malam itu juga dicek tidak ada uang yang dimaksud,” kata Roy di Polda Metro Jaya, Senin (18/2).

Tas tersebut juga sempat dilempar ke muka dua anggota KPK. Hal itu untuk memastika bahwa dalam rapat tersebut memang tidak mengarah pada sogok-menyogok.

“Tas dipegang oleh Nuswea selaku Kabid Anggaran, dibuka langsung di depan Gilang Wicaksono, kemudian dilempar ke mukanya untuk dilihatkan bahwa memang tidak ada barang bukti yang dicurigai,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga membawa alat bukti berupa buku risalah rapat. Buku tersebut sebagai bukti bahwa kegiatan yang berlaku di Hotel Borobudur itu merupakan agenda resmi pemerintahan.

“Kita juga akan menyerahkan risalah rapat malam itu. Jadi pertemuan malam itu legal karena ada risalah rapat yang kami bahas malam itu,” ungkapnya.

Selain tas hitam dan risalah rapat, pihaknya juga membawa alat bukti berupa tangkap layar grup WhatsApp milik pegawai KPK, Gilang Wicaksono.

Barang bukti tersebut merupakan informasi dari WhatsApp grup yang dipegang oleh Gilang Wicaksono tentang bagaimana dia membuntuti Gubernur Papua.

“Saya mau kasih tahu, ada satu bukti yang paling penting dan menurut saya ini penting kalian muat. Bahwa ternyata KPK berusaha menghilangkan barang bukti,” tuturnya.

“Setelah tiba di Polda, WhatsAppnya Gilang hilang. Jadi semua data yang ada di dalam Hp blank, kita buka ulang ternyata blank juga. Ini ada apa KPK menghilangkan barang bukti,” tegasnya.

Sebelumnya, kasus penganiayaan itu terungkap setelah salah satu penyelidik KPK bernama Gilang Wicaksono resmi membuat laporan ke Polda Metro Jaya, Minggu (3/2).

Aksi penganiayaan itu terjadi saat Gilang dan penyelidik KPK Indra melakukan pengintaian terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe, yang sedang melakukan rapat bersama Ketua DPRD Papua, anggota DPRD Papua Sekretaris Daerah (Sekda) dan sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/2) malam.

Pengintaian itu dilakukan karena kedua penyelidik KPK itu sedang mendapatkan tugas untuk menelusuri adanya dugaan korupsi anggaran di Papua.

Dalam kasus ini, polisi telah meningkatkan status kasus penganiayaan dari penyelidikan ke tahap penyidikan. Meski demikian, polisi belum menetapkan status tersangka pihak Pemprov Papua, terkait insiden  yang dialami dua penyelidik lembaga antirasuah itu.

(fir/pojoksatu)