Sejarah Kitab Kuno Raden Umro, Gunakan Kertas Eropa, Sempat Diklaim Malaysia

Ketua Padepokan Raden Umro Moh. Habibullah menunjukkan kitab Bahru Al-Lahut dan Kamus Al-Muhit ketika ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Ketua Padepokan Raden Umro Moh. Habibullah menunjukkan kitab Bahru Al-Lahut dan Kamus Al-Muhit ketika ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Ra Habib mengumpulkan per satu kitab kuno di Padepokan Raden Umro. Kitab-kitab tersebut membahas berbagai pengetahuan ratusan tahun silam. Sebagian di antaranya mengulas tentang gaib.

ANIS BILLAH, Pamekasan

Cuaca cerah tampak di daerah Dusun Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Suasana sunyi. Tak ada bunyian-bunyian apa pun yang mengusik pendengaran. Lalu-lalang kendaraan nyaris tak terlihat.

Tepat pukul 07.00 Minggu (10/2) RadarMadura.id tiba di kompleks Pondok Pesantren Sumber Anyar. Tak lama kemudian, seorang laki-laki berkopiah dan mengenakan baju putih menyapa. Dia adalah Ketua Padepokan Raden Umro Moh. Habibullah.


Kemudian, pria yang akrab dipanggil Ra Habib itu mengenalkan naskah kuno yang dirawatnya sejak 2004. Kitab tulisan tangan tersebut merupakan peninggalan nenek moyangnya yang dikenal KH Zubair, pendiri Pondok Pesantren Sumber Anyar 1515 M.

Sebelum diselamatkan, kitab-kitab tersebut ditemukan dalam keadaan mengkhawatirkan. Kertas dan sampulnya dimakan rayap. Bahkan, puluhan kitab lainnya sudah melebur menjadi abu. ”Awalnya kitab-kitab kuno itu telantar, tidak ada yang merawat. Kami menemukannya sudah banyak yang lapuk dimakan rayap. Sebagian ada yang masih utuh karena ditemukan di dalam lemari,” katanya.

Bapak dua anak itu menjelaskan, keinginan menyelamatkan kitab tersebut muncul ketika dirinya duduk di bangku kuliah. Pada saat itu, dia sedang membaca buku sejarah. Sejak saat itu, dia mulai mengingat lembaran kitab kuno di tanah kelahirannya itu.

Setelah itu, Ra Habib mulai ingat bahwa di sekitar tempat tinggalnya banyak kitab kuno. Dia pulang untuk melihat kondisi kitab-kitab peninggalan nenek moyangnya itu. Dia mulai sadar akan pentingnya nilai-nilai sejarah dari peninggalan leluhur.

”Satelah dikumpulkan, minta izin kepada pemilik kitab yang kebetulan beliau adalah bibi saya untuk dirawat. Alhamdulillah, diizinkan. Saya mengajak saudara dan kerabat yang lain untuk membantu membersihkan kitab itu,” terang lulusan UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, itu.

Kitab-kitab yang berhasil diselamatkan menjelaskan berbagai keilmuan. Di antaranya, kitab tafsir Alquran, hadis, tauhid, balaghah, nahwu, dan sharraf. Kemudian ada kamus, filsafat, fikih, tasawuf, rumus matematika, dan astronomi. Yang paling banyak ditemukan adalah kitab-kitab tauhid, fikih, dan tasawuf.

Di antara kitab tasawuf, yang terkumpul 14 macam. Yang paling populer yakni Bahrul Lahut karya Syekh Abdullah Syarif. Kitab tersebut menjelaskan sesuatu yang gaib atau yang tidak tampak dan sesuatu yang terlihat.

Tidak ada yang tahu usia kitab tersebut. Di dalamnya tidak ada keterangan tahun. Namun, usia kitab itu bisa diketahui melalui kertasnya. Kertas kitab tersebut menggunakan kertas Eropa.

”Kertas dari Eropa itu biasanya kalau diterawang ada simbolnya. Dari simbol itu bisa diketahui usia kitab tersebut. Kalau menurut peneliti, kitab itu ada sekitar 1600 Masehi. Bahkan, kitab ini sempat diklaim milik Malaysia,” bebernya.

Sementara dalam bidang ilmu tauhid, ada 16 kitab yang berhasil diselamatkan. Di antaranya, kitab Fathul Mubin Fi Syarhi Ummil Burhan merupakan syarah (komentar) dari kitab Ummul Barahin karya Syekh Muhammad bin Yusuf Assanusi.

Kemudian, dalam ilmu fikih terkumpul 15 macam kitab. Di antaranya, kitab Almuharrar karya Syekh Imam Abil Qosim Imamuddin Abdul Karim Arrafi’i. Kitab tersebut menjadi rujukan dalam bidang ilmu fikih di kalangan mazhab Syafi’i.

Dalam bidang tafsir Alquran ditemukan tiga kitab. Yakni, tafsir Jalalain karya Syekh Jalaluddin Assyuthi dan Jalaluddin Almahalli, tafsir Asrori Yusuf karangan Syekh Ibnu Abbas, dan Tafsir Alfatihah yang tidak diketahui penulisnya.

Di samping dalam bidang yang lain lebih sedikit. Misalnya, kitab filsafat terkumpul empat, astronomi dua kitab, nahwu lima kitab, sharraf tiga kitab, balaghah dua kitab, sejarah dua kitab, hadis satu kitab, dan kamus dua kitab.

”Kebanyakan kitab yang kami temukan tidak ada nama dan keterangan tahunnya. Jadi, kami sulit menentukan usia kitab-kitab yang ada di sini. Kalau hasil kajian dari peneliti, di sini merupakan koleksi kitab terlengkap dan terbanyak untuk kalangan pesantren,” bebernya.

Kepala Perpustakaan Raden Umro Abd. Rasyid menambahkan, selain kitab, ada naskah kuno yang menggunakan bahasa Jawa kuno dan Arab pegon. Pihaknya terus berupaya agar kitab-kitab tersebut tetap terawat. Dengan demikian, nilai-nilai yang dikandungnya bisa dipelari oleh semua kalangan.

”Dari beberapa kitab dan naskah yang ada di sini, belum bisa kami pahami semua. Apalagi yang berbahasa Jawa kuno. Perlu ada peneliti yang bisa membaca isi naskah tersebut. dengan begitu, kita bisa mempelajari isinya,” harapnya.

(mr/luq/bas/jpr)