2.000 Santri Gak Terima Kelakuan Fadli Zon Lecehkan Mbah Moen Lewat ‘Doa yang Tertukar’

2000 santri se-Kudus tak terima kelakuan Fadli Zon yang sudah dianggap melecehkan dan menghina kyai kharismatik NU, KH Maimun Zubair atau Mbah Moen lewat puisi 'Doa yang Tertukar'
2000 santri se-Kudus tak terima kelakuan Fadli Zon yang sudah dianggap melecehkan dan menghina kyai kharismatik NU, KH Maimun Zubair atau Mbah Moen lewat puisi 'Doa yang Tertukar'

POJOKSATU.id, KUDUS – Tak kurang 2000 santri dari pondok pesantren se-Kudus, tak terima ulah Fadli Zon yang dinilai melecehkan KH Maimun Zubair atau Mbah Moen.

Penghinaan atas ulama kharismatik Nahdlatul Ulama itu termuat dalam puisi yang berjudul ‘Doa yang Tertukar’. Semestinya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu tak melecehkan ulama sekelas Mbah Moen yang begitu dihormati.

Sebagai bentuk protes sekaligus perlawanan, ribuan santri yang tergabung dalam Aliansi Santri Bela Kiai (ASBAK) menggelar aksi di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/2).

Jurubicara dan koodinator aksi M. Sa’roni mengatakan, kyai merupakan panutan bagi masyarakat khususnya para santri.


“Dengan kealimannya dan sikap tawadlu’ yang diperlihatkan mencerminkan tingginya ilmu seorang kyai,” jelasnya, dikutip dari Radar Kudus, Sabtu (9/2/2019).

Sa’roni menegaskan, kyai adalah gelar yang disematkan masyarakat kepada seseorang yang dianggap memiliki tingkat keilmuan yang tinggi, sikap tawadlu yang luar biasa, akhlaqul karimah dan sebagainya.

Di sisi lain, gelar kyai bukankah gelar sembarang yang bisa disematkan atau diklaim secara pribadi. Makin banyak santri seorang kyai, maka makin besar pula pengakuan masyarakat.

“Karena itu, penghinaan terhadap kyai adalah penghinaan pula kepada santri. Demikian juga kasus ini (Fadli Zon),” tegasnya.

Sa’roni mengakui, Wakil Ketua DPR RI itu memang sudah memberikan bantahannya. Akan tetapi, justru hal itu dinilai sebagai bentuk ketakutan sekaligus ingin cuci tangan dan lepas dari tanggungjawab.

“Bahkan saking takutnya kemudian memposting foto bersama (, bahwa yang dimaksud dalam puisi Mbah Moen, bukanlah syaikhona,” jelasnya.

“Tapi publik dan santri pada khususnya, bukanlah orang bodoh dan ber-IQ rendah tidak bisa membaca kias siapa yang dituju,” tegas Sa‚Äôroni, Sabtu (9/2).

Ia menegaskan, ungkapan dalam puisi tersebut jelas menyayat kaum santri dan para muhibbin dengan mengidentikkan derajat kealiman seorang ulama besar. Sebagai seorang politisi sekaligus publik figur harusnya Fadli Zon bisa memberikan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.

“Entah mungkin politisi tersebut tidak pernah mengaji ‘al adab fauqa al ilm’ yang selama ini menjadi pedoman dasar bagi seorang santri ketika menimba ilmu di pesantren,” sindirnya.

Menurut dia, Fadli Zon seharusnya mengedepankan etika atau adab dalam berpolitik jika memang semua tujuan politik ini adalah demi membangun bangsa Indonesia lebih baik, lebih maju dan lebih beradab.

Bukan kemudian memainkan akrobat politik yang mengkesampingkan akhlaq, etika, adab ataupun prilaku yang mana hal tersebutlah yang membedakan bangsa ini dengan bangsa lain.

“Ketika politisi menghalalkan segala cara dalam rangka merebut kekuasan, maka yang menjadi gerakannya bukan lagi nalar pikir yang sehat sesuai koridor agama,”

“Melainkan nafsu politik yang berlandaskan emosi, sehingga yang muncul adalah hasud, dengki dan ujaran kebencian,” tegas dia lagi.

Karena itu, ia meminta para politisi memberikan pendidikan politik cerdas dan beradab kepada masyarakat.

Agar bangsa ini benar-benar bersatu, bukan malah membelah bangsa ini hanya demi sebuah kepentingan kekuasaan.

“Luka para santri tidak akan redam tanpa ada permintaan maaf dari politisi tersebut kepada syaikhona,”

“Luka itu akan semakin lebar dan semakin dalam ketika Fadli Zon seolah tanpa dosa mencuitkan kata-kata yang selalu memperkeruh bangsa ini,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta Fadli Zon dan kelompoknya menggunakan politik santun dan beradab kepada masyarakat agar bangsa ini damai dan rukun dalam persatuan di kbhinnekaan.

Jauhkan diri dari caci maki, hasutan dan ujaran kebencian yang dapat memprovokasi masyarakat.

“Jangan jadikan agama sebagai komoditas politik sehingga bisa terjadi pelecehan dalam beragama,” pungkasnya.

Fadli Zon mengunggah foto bersama KH Maimun Zubair atau Mbah Moen lewat akun Twitter pribadi miliknya sebagai berntuk klarifikasi puisi 'Doa yang Tertukar'
Fadli Zon mengunggah foto bersama KH Maimun Zubair atau Mbah Moen lewat akun Twitter pribadi miliknya sebagai berntuk klarifikasi puisi ‘Doa yang Tertukar’

(jpg/ruh/pojoksatu)