Gerah tapi BPN Prabowo-Sandi Kota Bogor Enggan Laporkan Indonesia Barokah

BPN Prabowo-Sandi Kota Bogor mencabut PBB sebagai salah satu parpol pengusung pasangan nomor urut 02 di KPU Kota Bogor. Foto: Adi/PojokBogor
BPN Prabowo-Sandi Kota Bogor mencabut PBB sebagai salah satu parpol pengusung pasangan nomor urut 02 di KPU Kota Bogor. Foto: Adi/PojokBogor

POJOKSATU.id, BOGOR – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Kota Bogor mengaku enggan melaporkan kasus beredarnya Tabloid Indonesia Barokah di Kota Bogor.


Akan tetapi, menurut Ketua BPN Prabowo-Sandi Kota Bogor, Riyanti Suryawan, sudah ada beberapa relawan yang melaporkan lebih dulu ke polisi.

“Kalau di pusat sudah, Kota Bogor belum. Tapi sudah ada beberapa relawan yang melaporkan,” ujarnya kepada pojokbogor saat ditemui di Kantor KPUP Kota Bogor, di Jalan Loeder, Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Rabu (06/02/2019).

Riiyanti menambahkan, pihaknya pun bersiap jika nantinya laporan-laporan tersebut tak direspon polisi.


“Aaya minta bukti pelaporannya (dari relawan) dikirim ke kami bilamana tidak ada tindak lanjut dari pihak kepolisian,” lanjutnya.

Kendati demikian, pihaknya menyanyangkan beredarnya tabloid Indonesia Barokah di Kota Bogor yang isinya menyudutkan capres-cawapres jagoannya itu.

“Yang kami sayangkan adalah mengapa hal ini bisa terjadi. Tempat yang harusnya steril dari kampanye di sisipi hal seperti itu. Miris dan tentu kami tidak menginginkan,” ucapnya.

Bukan hanya kontennya yang menyudutkan, lanjut Riyanti, tapi cara-cara yang digunakan Indonesia Barokah itu jelas tidak dibenarkan.

“Sebetulnya menyudutkan kami, tentu kami merasa dirugikan,” bebernya.

Karena itu, pihaknya berharap agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

“Cara-cara seperti ini, sebetulnya juga dan saya yakin 01 maupun 02 tidak menginginkan. Jadi bertanggungjawablah dan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan itu,” ucapnya.

Lebih lanjut, beredarnya tabloid tersebut malah akan merugikan semua pihak. Pasalnya, masing-masing pihak akan saling curiga sebagai dalang di balik Indonesia Barokah.

“Soalnya ini tidak ada pengusutan. Kami sudah laporkan tapi untuk tindaklanjutnya tidak ada sampai saat ini,”

“Kejelasan di mana, siapa dalangnya, siapa mendistribusikan, siapa yang bertanggung jawab ini kan belum ada,” jelasnya.

Meski begitu, Riyanti berharap kasus ini bisa diselesaikan karena mengganggu stabilitas perpolitikan di Tanah Air.

“Kami menginginkan masyarakat lebih dewasa dalam berpolitik.
Kita ingin menang dengan cara-cara yang benar tidak dengan cara-cara yang kotor seperti ini,” imbuhnya.

(adi/pojoksatu)