Cerita Para Jurnalis Cantik Antara Kerja dan Keluarga

KJB gelar diskusi di Citywalk Sudirman, Jakarta. Foto: Maryam/Pojoksatu

POJOKSATU.id, BANDUNG – Pasca pergantian kepengurusan, Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) mengadakan sesi sharing jurnalis bertemakan “Wanita: Karir Atau Ibu Rumah Tangga” di Citywalk Sudirman, Jakarta, Sabtu (15/12/2018).


President KJB Nikmatus Sholikah mengatakan, berdasarkan hasil survei pihaknya mengaku mendapati bahwa para perempuan memilih tema diskusi soal wanita karir dan rumah tangga.

“Jadi, banyak banget perempuan yang memilih tema tersebut. Mungkin karena kita perempuan dan kebanyakan kita di KJB punya karir sebagai jurnalis,” bebernya.

Masih di lokasi yang sama, Ovi Shofianur membagikan pengalamannya berkarir di dunia jurnalistik dan berumah tangga.
Ovi mengaku pertama kali bekerja di sebuah media cetak dan kini sudah 13 tahun bekerja di ranah jurnalistik.


“Saya sudah 13 tahun jadi jurnalis, sekarang sudah menjadi pimpinan redaktur. Dari awal (mendapat pekerjaan, red) kerja di media cetak,” ujarnya.

Ia menambahkan, sempat bekerja di televisi selama 5 tahun, resign (keluar, red) saat anak kedua. Saat ini, dirinya bekerja di media majalah yang dinilai jam kerjanya lebih ramah untuknya.

Ibu cantik ini lantas menjelaskan bagaimana perjalanannya selama ini bisa bertahan bekerja di ranah jurnalistik.

“Saat jadi ibu, kita harus selesai dengan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, jika sudah seperti itu, maka takkan menyalahkan keadaan,” ungkapnya.

Menurutnya, masalah pekerjaan seorang perempuan setelah menikah, kembali ke suami. “Harus dapat ridho suami,” ujar anggota KJB ini.

Jurnalis cantik lainnya di lokasi yang sama, Ariesta Wahyu, juga membagikan pengalamannya berkarir di dunia jurnalistik dan berumah tangga. “Beberapa tips dari saya, pertama harus perhitungan waktu dengan adil. Selain itu pun harus disadari, anak itu tanggung jawab bersama,” kata perempuan cantik ini.

Perempuan yang biasa dipanggil Aang ini menambahkan, harus ada kesatuan visi misi dengan pengasuh anak. “Jadi, kalau kita pakai pembantu harus disesuaikan visi misi kita dengan pengasuh anak kita saat sibuk bekerja,” tambahnya.

Selanjutnya, masih kata Aang, maksimalkan waktu yang berkualitas. Waktu ini bisa dimaksimalkan seperti saat sedang bersama keluarga.

Hal lain yang harus dilakukan, katanya, penggunaan teknologi harus dimanfaatkan untuk pengawasan keluarga.
“Jangan lupa juga ada “me time” agar tetap bahagia. Bentuknya tidak harus pergi ke mall, belanja, tapi saat bersama keluarga juga bisa lakukan,” terangnya.

Ia pun menambahkan pengalamannya berkarir di dunia bisnis. “Terkadang sambil menunggu narsum berjam-jam suka merasa ada waktu terbuang. Hal ini, bisa dimanfaatkan buat berbisnis. Jadi sambil nunggu narsum kita bisa jalanin bisnis online,” pungkasnya.

(mar/pojoksatu)