Ombudsman RI Temukan Malaadministrasi Dalam Laporan Polisi Kasus Novel Baswedan

Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ombudsman RI (ORI) menilai adanya malaadministrasi  dalam proses laporan polisi tentang tindak pidana kekerasan terkait perkara tindak pidana penyiraman air keras yang dialami penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.


Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono mengatakan, penyidik terlebih dahulu akan mempelajari soal adanya tuduhan dugaan malaadministrasi tersebut.

“Intinya dari ombudsman sampaikan ada beberapa temuan, nanti kita jawab, kan dikasih waktu 30 hari,” ungkap Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/12).

Menurut Argo, apalagi sampai saat ini, Novel sendiri belum pernah memenuhi  panggilan penyidik. Karena itu, penyidik sendiri perlu menggali dugaan temuan malaadministrasi tersebut.


“Tentunya kalau kita mencari metode induktif dan metode deduktif kan. Kita harus mencari dari motif, motifnya itu apa dalam segi pekerjaan. Apakah pernah menangani suatu perkara tertentu, apakah pernah dapat ancaman, intimidasi,” bebernya.

“Kemudian kedua apakah pernah ada masalah keluarga, itu semuanya yang harus kita gali dari korban (Novel) itu sendiri. Sampai sekarang belum dapatkan itu,” ungkap Argo.

Sebelumnya, Komisioner ORI Pusat Adrianus Meliala menilai ada empat ada empat temuan malaadministrasi dalam pemeriksaan Ombudsman.

Pertama adalah aspek penundaan berlarut penanganan perkara.

“Tidak adanya jangka waktu penugasan yang dilakukan penyelidik. Tidak ada batasan jangka waktu tersebut terjadi dalam surat perintah tugas yang dikeluarkan oleh Polsek Kelapa Gading, Polres Metro Jakarta Utara, maupun surat perintah yang dikeluarkan oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya,” paparnya.

Kedua, aspek efektivitas penggunaan Sumber Daya Menusia (SDM). Menurut Adrianus, dalam menangani perkara ini, jumlah penyidiknya sangat banyak baik dari Polres Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya. Namun, dalam prosesnya terkesan tidak efektif serta efesien.

“Harusnya penyidikan berpatokan kepada rencana penyidikan yang matang sehingga dapat efektif dalam menentukan jumlah personil,” ungkapnya kemudian.

Ketiga, yaitu tiga aspek pengabaian petunjuk yang bersumber dari kejadian yang dialami Novel, di antaranya:

1. Dimulai dari rangkaian tersebut, dari awal bulan Ramadhan tahun 2016 saat terdapat percobaan penabrakan sebuah sepeda motor kepada Novel.

2. Di tahun yang sama, Novel ditabrak oleh sebuah mobil sebanyak dua kali.

3. Informasi dari Komjen Pol. Drs. M. Iriawan, terkait dugaan ada indikasi upaya percobaan penyerangan terhadap Novel. Hal tersebut disampaikan Iriawan pada saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Keempat aspek terhadap penyidik yaitu terdapat ketidakcermatan atasan penyidik dan penyidik mengenai Laporan Polisi yang menjadi dasar dalam pembuatan administrasi penyidik mengenai Laporan Polisi yang menjadi dasar dalam pembuatan administrasi penyidikan lainnya.

(fir/pojoksatu)