Menilik 14 Hari Pasca Gempa Palu: Warga Masih Trauma, Elpiji 3 Kg Tembus Rp40 Ribu

Kamp pengungsian di Lapangan Benteng, Kelurahan Buluri Kecamatan Ulujadi Kota Palu terlihat lengang di siang hari karena mereka mulai membersihkan rumah, Kamis (11/10/2018). Foto: Medil/PojokSatu
Kamp pengungsian di Lapangan Benteng, Kelurahan Buluri Kecamatan Ulujadi Kota Palu terlihat lengang di siang hari karena mereka mulai membersihkan rumah, Kamis (11/10/2018). Foto: Medil/PojokSatu

POJOKSATU.ID, PALU – Gempa dan tsunami Palu, Donggala, Sigi, Sulawesi Tengah sudah 14 hari berlalu. Namun aktivitas di tiga wilayah itu belum sepenuhnya berjalan normal.

Pantauan Pojoksatu.id, Kamis (11/8/2018), sebagian kecil warga memang sudah menjalankan aktivitas seperti biasa.

Seperti pemilik warung makan, kios dan di pasar. Seperti di pasar Masomba, Jalan Tanjung Manimbaya Kota Palu.

Namun demikian, toko atau ruko yang buka masih sangat terbatas. Kebanyakan pedagang belum membuka lapak jualannya.


Ada yang masih mengungsi di rumah keluarga yang dianggap aman atau mudik ke kampung halamannya.

Kios-kios yang buka pun menjual barang dagangannya dengan harga di atas normal.

Suasana Kota Palu, Kamis (11/10/2018) siang. Aktivitas perekonomian hanya didominasi warung makan, sementara sejumlah ruko masih tutup. Foto: Medil/PojokSatu
Suasana Kota Palu, Kamis (11/10/2018) siang. Aktivitas perekonomian hanya didominasi warung makan, sementara sejumlah ruko masih tutup. Foto: Medil/PojokSatu

Tabung elpiji 3 Kg misalnya dijual pada kisaran Rp30 ribu sampai Rp40 ribu.

Bahkan akhir pekan lalu, Pojoksatu.id sempat mendapati pengecer yang menjual hingga Rp50 ribu.

Khusus rokok, dijual dengan selisih harga sampai Rp5.000 di atas harga normal untuk semua merk.

“Jual tabung gas ini, saya cuma untung Rp5.000 pak. Saya juga belinya mahal,” kata Heruddin (59) pedagang di Pasar Masomba.