Data Dikubur Massal Tak Ada, Keluarga Korban Gempa Palu Bingung

Salah satu pemandangan di sudut kota Paliu, usai gempa dan terjangan tsunami. Foto JPG
Salah satu pemandangan di sudut kota Paliu, usai gempa dan terjangan tsunami. Foto JPG

POJOKSATU.id, PALU- Keluarga korban gempa dan tsunami Palu yang selamat merasa bingung dengan proses pemakaman massal yang dilakukan. Sebab tak ada dokumentasi dan data para korban yang dikubur itu.


”Saya tanya nama yang dikubur siapa? Tidak ada. Saya tanya ciri korban yang dikubur juga tidak ada,” jelas Tomo (45), Warga Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (7/10) kepada Jawa Pos (Group Pojoksatu).

Tomo sudah berkeliling ke berbagai tempat pengungsian. Dia juga sudah mengecek beberapa pemakaman massal korban gempa yang dibuat pemerintah. Dia kehilangan ibu, dua adik, dan dua anaknya.

Dia menyesalkan soal tidak adanya proses identifikasi korban meninggal yang ditemukan tim SAR. Itu terbukti ketika dia berkunjung ke tempat pemakaman massal di Poboya kemarin.


Dia datang ke tempat itu karena mendengar informasi ada pemakaman 30 jenazah anak.

Dia menilai, seharusnya tim evakuasi mendata korban yang ditemukan. Jika identitasnya tidak ditemukan, paling tidak baju atau perhiasan yang dipakai dicatat.

Kondisi itu perlu untuk menenangkan orang tua yang terus mencari anaknya.

Keterlambatan penanganan itu juga terlihat dari tidak hadirnya tim evakuasi sehari setelah Balaroa rata dengan tanah.

Padahal, menurut Tomo, pagi setelah gempa terjadi, banyak korban yang sebenarnya masih hidup. Namun, mereka tidak bisa dievakuasi karena tidak adanya peralatan.

”Banyak yang minta tolong. Tapi, kami tidak bisa menjangkau,” jelasnya.

Sehari setelah gempa, Tomo dan beberapa saudaranya berhasil mengevakuasi delapan korban. Tujuh di antaranya selamat.

Disinggung soal wacana pemakaman massal, Tomo tidak terlalu mempermasalahkan. Mau dijadikan pemakaman masal silakan. Tidak juga silakan.

”Yang pasti, kami butuh kejelasan. Di mana keluarga kami,” tuturnya.

Sebagian keluarga di Balaroa menyesalkan lambannya evakuasi dan identifikasi korban oleh pemerintah. Kondisi tersebut membuat keluarga terus menunggu dalam ketidakpastian.

Dari proses evakuasi keluarganya itu, hingga kemarin Tomo belum menemukan Randi Saputra, anak keduanya.

Lurah Balaroa Rahmansyah mengatakan, hingga Minggu (7/10) setidaknya jenazah yang dapat dievakuasi mencapai 200 orang.

Mereka tersebar di area titik reruntuhan seluas sekitar 10 hektare. Rahman memaparkan, desanya memiliki tiga area pemetaan.

Yakni, wilayah Balaroa inpres, Balaroa perumahan, dan Balaroa kampung. Total penduduknya mencapai 13 ribu jiwa.

Wilayah paling terdampak berada di area Perumnas Balaroa. Dia belum bisa memberikan data terperinci mengenai jumlah penduduk yang selamat dan meninggal.

Yang pasti, di area perumnas, penduduk Balaroa tercatat sebanyak 800 KK.

”Datanya belum bisa kami pastikan,” jelasnya.

(elo/tyo/jun/c10/agm/jpc/pojoksatu)