Korban Gempa Palu Nyaris 2.000 Jiwa, Korban Hilang 683 Orang

Relawan Banser Lutim Sulsel ikut membantu pencarian korban gempa palu di desa Balaroa, Palu Barat, sabtu (6/10/2018). Foto: Medil/Pojoksatu

POJOKSATU.id, JAKARTA– Korban meninggal gempa dan tsunami Palu nyaris mencapai 2.000 jiwa  hingga Minggu (7/10) pukul 18.00 WIB.


Kepala Penerangan Komando Tugas Gabungan Terpadu Sulawesi Tengah Kolonel Inf. Muh Thohir menjelaskan bahwa 815 jenazah korban bencana dikubur secara massal di Poboya, 35 jenazah dikubur massal di Pantoloan, dan 1.059 jenazah telah dimakamkan oleh keluarga masing-masing. Jumlah korban meninggal gempa dan tsunami Palu hingga Minggu sore telah mencapai 1.944 orang.

Selain itu ada 35 jenazah korban yang dimakamkan di Donggala dan delapan jenazah yang dimakamkan di Biromaru, Kabupaten Sigi.

“Sementara jumlah korban luka-luka tercatat 2.549 orang. Korban hilang 683 orang, dan jumlah pengungsi 74.444 orang. Bencana juga menyebabkan 65.733 rumah rusak,” kata Thohir seperti dilansir Antara, Minggu (8/10).


Korban hilang merupakan korban gempa dan tsunami atau tanah tertimbun yang sudah diketahui identitasnya, namun belum diketahui keberadaan yang bersangkutan hingga hari kesembilan atau Minggu (7/10) sore.

Thohir, yang juga Kepala Penerangan Kodam XIII/Merdeka menjelaskan pihaknya berhasil mengevakuasi 20 mayat di Kelurahan Petobo, salah satu wilayah yang menjadi terisolir akibat gempa.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan pencarian korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, ditargetkan selesai pada 11 Oktober 2018.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan target itu sesuai dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan dan diharapkan tidak ada daerah yang terisolir, tidak ada kekurangan bantuan, dan daya dukung masyarakat normal.

“Artinya aktivitas masyarakat kembali normal,” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu (7/10/2018).

Sutopo menuturkan hingga saat ini seluruh tim gabungan untuk pencarian dan penyelamatan korban terus melakukan proses evakuasi korban.

Ia mengatakan terhitung dari gempa Donggala berkekuatan 7,4 SR pada 28 September lalu, maka masa tanggap darurat menjadi 14 hari hingga 11 Oktober 2018.

BNPB menyebutkan korban gempa dan tsunami Sulteng yang tidak ditemukan setelah 14 hari bencana, maka korban itu dinyatakan hillang.

“Kalau korban tidak ditemukan sudah 14 hari sehingga dalam hal ini dinyatakan hilang,” ujarnya.

Meskipun evakuasi ditargetkan selesai pada 11 Oktober 2018, namun proses pencarian masih akan dilakukan namun bersifat terbatas, tidak besar-besaran seperti saat ini.

 

(ral/ant/cnn/pojoksatu)