Brigadir Sukamiarta Meninggal Saat Sibuk Tolong Korban Gempa, Ibu Kandung Minta Ini

Brigadir I Gusti Kade Sukamiarta
Brigadir I Gusti Kade Sukamiarta

POJOKSATU.id, PALU – Gugur dalam tugas. Itulah yang dialami Brigadir I Gusti Kade Sukamiarta (32).


Anggota Polri yang bertugas di Satuan lalulintas (Satlantas) Polres Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) itu meninggal saat sibuk menyelamatkan korban gempa yang melanda Donggala dan Palu pada Jumat (28/9).

Warga asal Banjar Tengah Desa Mendoyo Dangin Tukad, Mendoyo, Jembrana, Bali itu meninggal akibat digulung tsunami. Jenazah Brigadir Sukamiarta ditemukan tergelatak di dekat pantai pada Sabtu sore (29/9).

Jenazah pemuda yang berencana menikahi kekasihnya bulan depan ini telah dievakuasi dan disemayamkan sementara di RS Bhayangkara Palu.


BACA: Polisi Korban Tsunami Palu Itu Calon Pengantin, Sempat Telepon Minta Didoakan

Ibu kandung korban, Ni Gusti Ayu Milih Asi meminta agar jenazah anaknya segera dipulangkan ke Jembrana Bali. Saat ini keluarga masih menunggu proses pemulangan jenazah polisi lulusan SPN Singaraja tersebut.

“Saat ini kami (keluarga) menunggu proses pemulangan ke rumah duka. Keluarga akan menyiapkan keperluan upacara pengabenan jika jenazah sudah sampai di rumah duka. Harapan kami mudah-mudahan proses pemulangan jenazah bisa secepatnya,” ucap Asih saat ditemui di rumah duka, Minggu (30/9).

Orang tua memperlihatkan foto Brigadir I Gusti Kade Sukamiarta. (Radar Bali)
Orang tua memperlihatkan foto Brigadir I Gusti Kade Sukamiarta. (Radar Bali)

Di mata Asih, semasa hidup, mendiang yang akrab disapa Gus Maiz, ini dikenal sebagai sosok yang sangat supel dan mudah bergaul.

Sebelum diterjang tsunami, Brigadir Sukamiarta mendapatkan tugas pengamanan perayaan HUT Kota Palu ke-40. Ia sempat menelepon ibunya saat gempa menerjang Palu dan Donggala.

BACA: Memilukan! Polisi Calon Pengantin Sibuk Selamatkan Korban Gempa Sebelum Meninggal Digulung Tsunami

Saat itu, Brigadir Sukamiarta mengaku sedang sibuk menolong korban gempa. Ia meminta didoakan agar selamat dalam bertugas.

“Terakhir kali dia sempat menelepon ke rumah. Minta doa diberi selamat karena sedang membantu korban menyelamatkan warga dari guncangan gempa,” kenang Asih.

(bas/pra/mus/radarbali/pojoksatu)