Penari Tari Ratu Kidul Kesurupan Lagi, Guru Ketakutan, Semua Siswa Dipulangkan

Siswi SMK Gandhi Husada mengalami kerauhan kemarin. (Juliadi/Radar Bali)
Siswi SMK Gandhi Husada mengalami kerauhan kemarin. (Juliadi/Radar Bali)

POJOKSATU.id, BALI – Kesurupan demi kesurupan terus terjadi pasca para penari menari tarian Rejang Sandat Ratu Segara (RSRS) usai Festival Tanah Lot.

Seperti yang terjadi kemarin. Para siswi di SMAN 1 Kediri yang ikut menarikan RSRS mengalami kerauhan di sekolah. Parahnya lagi kerauhan terjadi di saat sedang mengikuti pembelajaran di ruangan kelas.

Siswi yang kesurupan menari seperti tarian yang digelar saat acara Tanah Lot Art and Food Festival. Kejadiannya sekitar pukul 09.30.

Hal tersebut sontak membuat guru dan pihak dan ketakutan. Pihak sekolah terpaksa memulangkan siswanya lebih awal agar kesurupan massal tidak semakin parah.


“Kami takut kontak hingga merembet ke siswa yang lain juga mengalami kerauhan. Akhirnya seluruh siswa kami pulangkan lebih awal,” kata Kepala Sekolah SMAN 1 Kediri I Wayan Sutaya.

Menurut Sutaya, jujur saja pihak sekolah tidak menyangka akan terjadi kerauhan. Awal pembelajaran di kelas kondusif seperti biasa.

Tapi, setelah pukul 09.30 kerauhan mulai terjadi. Karena banyak siswa yang mengalami kerauhan lebih dari 7 orang siswa.

Kemudian pihak sekolah tidak mampu menangani masalah tersebut. Akhirnya orang tua siswa datang ke sekolah dan membawa anaknya ke Pura Luhur Tanah Lot.

“Siswi kami yang mengikuti tarian RSRS sebanyak 245 orang. Sebagian besar siswi yang kerauhan di sekolah adalah penari dan kerauhannya dengan cara menari,” jelasnya.

Ditempah terpisah di SMK Gandhi Husada yang berada di Banjar Senampahan Kelod, Banjar Anyar, Kediri juga siswa mengalami kerauhan.

Hal yang sama kerauhan dengan cara menari di saat sedang mengikut pelajaran di dalam kelas. Pihak sekolah akhirnya memulangkan siswa lebih awal.

Karena takut akan terjadi kerauhan pada siswa lainnya. Kepala Sekolah SMK Gandhi Husada I Nengah Sandiana mengatakan, ada 18 orang pelajar yang ikut menarikan tarian rejang sandat ratu segara.

Yang membuat heran, justru yang tidak mengikuti tarian sakral tersebut juga mengalami kerauhan. “Kami sederhana berpikir, ke depan nantinya jika akan diadakan tarian entah bagaimana bentuk. Juga perlu memikir dampak yang akan terjadi,” tandasnya.

(rb/jul/mus/jpr/pojoksatu)