Dihukum Squat Jump 90 Kali, Siswi SMA 1 Gondang Lumpuh

Mas Hanum Dwi Aprilia 2
Mas Hanum Dwi Aprilia menjalani perawatan. Foto via Radar Mojokerto

POJOKSATU.id, MOJOKERTO – Kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) membuat celaka siswi SMA 1 Gondang, Kabupaten Mojokerto, Mas Hanum Dwi Aprilia (17). Pelajar yang duduk di kelas XI itu kini mengalami gangguan fungsi gerak pada kedua kakinya. Derita itu dialami Hanum pasca mendapat hukuman fisik berupa squat jump saat ekskul di sekolah.


Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto (Grup Pojoksatu.id), kejadian itu terjadi Jumat (14/7) lalu. Saat itu, Hanum bersama puluhan temannya mengkuti kegiatan ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di SMAN 1 Gondang.

Siswi asal Krian, Sidoarjo ini terlambat datang mengikuti kegiatan ekskul. Akibatnya, dia mendapat sanksi dari teman kelompok ekskulnya berupa hukuman fisik squat jump.

Sugiono, ayah Hanum menuturkan, dirinya tidak mengetahui persis apa yang menimpa putrinya. Sebab, selain bersekolah, selama ini putrinya juga tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Al Ghoits, Desa Ketegan, Kecamatan Gondang.


”Jumat (13/7) malam saya ditelepon, katanya mengeluh badannya sakit semua,” terangnya.

Oleh sebab itu, pihak keluarga menjemput Hanum dari pesantren untuk pulang ke rumahnya pada Sabtu (14/7).

Saat itu, Hanum belum mengalami tanda-tanda mengalami gangguan serius pada tubuhnya. Selang satu hari, putrinya diantarkan kembali ke pesantren. Sebab, Senin (16/7) sudah mulai aktif hari pertama sekolah di tahun ajaran baru ini.

Dia tidak menyangka bahwa kondisi putrinya semakin memburuk. Hanum mulai mengalami kesulitan untuk melangkahkan kakinya.

Siswi kelas XI IPS 2 itu harus dibopong oleh teman-temannya untuk sekadar pergi ke kamar mandi. Bahkan, selama beberapa hari terakhir putrinya sudah tak mampu lagi untuk berdiri.

”Hanya bisa slonjoran (berbaring), bangun sudah tidak bisa,” terangnya.

Mas Hanum Dwi Aprilia menjalani perawatan. Foto via Radar Mojokerto
Mas Hanum Dwi Aprilia terbaring lemah. Foto via Deik

Semakin hari kondisi putrinya kian menurun. Hingga akhirnya, pada Rabu (18/7) kedua kaki Hanum sudah nyaris tidak bisa digerakkan. Untuk beranjak dari tempat tidur pun sudah tak lagi bisa dilakukan.

Merasa khawatir mengalami cedera serius, saat itu juga pesantren berinisiatif membawanya ke pijat alternatif sangkal putung di Desa Pandanrum, Kecamatan Pacet.

Sugiyono mengaku sempat diceritakan ikhwal keluhan yang dialami anaknya. Menurutnya, hal itu mulai dirasakan anaknya setelah mengikuti kegiatan ekskul di sekolah.

Diduga karena putrinya terlambat hadir sesuai jadwal, sehingga putri kesayangannya itu harus menjalani sanksi hukuman dari teman ekskulnya.

”Katanya habis latihan di sekolah. Tapi, karena terlambat diberi hukuman,” tandasnya.

Mas Hanum Dwi Aprilia menjalani perawatan. Foto via Deik
Mas Hanum Dwi Aprilia menjalani perawatan. Foto via Deik

Dari pengakuan putrinya, hukuman yang dijalani berupa hukuman fisik dengan melakukan squat jump. Dia tidak mengetahui pasti berapa kali anaknya melakukan squat jump. ”Katanya (Hanum) squat jump. Tapi, berapa jumlahnya saya tidak tahu,” pungkasnya.

Dia mengaku sudah didatangi pihak sekolah kemarin. Kedatangan guru-guru tersebut untuk menjenguk anak didiknya yang kini masih dirawat di pengobatan alternatif sangkal putung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet.

Sugiyono mengatakan, belum menanyakan persis perihal penyebab hukuman yang diberikan kepada putrinya. Namun informasi yang beredar menyebutkan bahwa Hanum dihukum squat jump 90 kali. Ada pula yang menyebutkan 60 kali.

Saat ini kedua kaki Hanum tidak bisa digerakkan, begitu pun pada bagian punggung. Diduga, saraf tulang belakang Hanum terjepit.

(one/pojoksatu)