Wanita Ini Ungkap Sulitnya Berhijab Pakai Cadar, Melawan Stigma Paling Berat

Wanita bercadar
Wanita bercadar

POJOKSATU.id,  – Menjadi sosok perempuan bercadar ternyata tidak menghalangi perempuan ini untuk menjadi seorang yang aktif dengan aktivitasnya.

Bukan hanya di rumah, perempuan ini memiliki banyak sekali ragam teman. Aksi teror bom di mana sebagian orang mengaitkannya dengan cadar, tak berpengaruh baginya.

Ramadan kali ini ia semakin aktif yang notabene dari pasien terapisnya sendiri secara berkala membagikan kebahagiaan berupa menu berbuka puasa untuk kalangan dhuafa di sekitar rumahnya.

“Ya, pada momen Ramadan justru bakal lebih digiatkan. Terutama pada 10 hari terakhir Ramadan, rencana saya, keluarga, dan beberapa kawan saya bakal menjalankan program ini setiap hari,” kata Ita, panggilan akrab Ita Solehati.


Ita menambahkan, sebelumnya ia pun bersama keluarga dan beberapa pasiennya sudah rutin menjalankan program ini lebih dari dua tahun.

“Sudah dua tahun lebih. Ini sebagai tanda syukur saja,” terangnya.

Menurutnya, ia bahkan sudah terbiasa membagikan langsung makanan tersebut kepada para dhuafa.

“Biasanya sama salah satu anggota keluarga, atau pasien terapis yang saat itu bisa ikut serta,” terangnya.

Selain aktivitas tersebut, perempuan yang memiliki enam anak ini kini semakin aktif dengan berbagai aktivitasnya, terutama di luar rumah.

“Biasanya aktivitas saya belajar tahsin, arisan di lingkungan RT, dan silaturahmi dengan masyarakat. Tapi saya juga bekerja sebagai terapis, ngebekam, notok,” katanya.

Soal cadarnya, ia merasa sudah terbiasa memakainya. Awalnya sejak sekitar tahun 1991. Di balik itu, Ita mengaku pernah mengalami berbagai rintangan.

“Sekitar tahun 1991 saya, suami, dan anak ada di Jerman. Di sana suami meminta saya pakai cadar,” katanya.

Ia mengaku, tak lama setelah menjalaninya justru kemudian banyak orang Jerman protes karena dianggap kehadirannya sebagai pendatang baru dianggap menjadi pesaing.

“Banyak pendatang baru yang dipukul dengan tongkat baseball, apartemen dilempar bom molotov, dan semacamnya,” paparnya.

Banyak yang takut dan tidak berani keluar jika tak ada kepentingan mendesak.

Kisah pun, katanya, berlanjut saat pulang ke Indonesia. Saat itu beredar kabar di masyarakat kalau para perempuan bercadar bawa racun ke pasar.

“Saat itu saya pernah mengalami saat ke pasar banyak mata memandang curiga. Apalagi waktu itu masih pakai gamis dan kerudung serta cadar warna gelap, meskipun panjangnya gak sampai sedengkul,” tambahnya.

(maryam/pojoksatu)