3 Hari Sebelum Kejadian Ada Sesuatu, Guru Muhammadiyah Bocorkan Perilaku Anak Bomber Gereja Surabaya

Kepala SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Ari Sutikno menunjukkan tempat duduk Firman Halim di kelasnya, Selasa (15/5).
Kepala SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Ari Sutikno menunjukkan tempat duduk Firman Halim di kelasnya, Selasa (15/5).

POJOKSATU.id, SURABAYA – Dua Anak Bomber Gereja Surabaya, Dita Oepriarto dan Puji Kuswati tercatat menjadi murid SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Surabaya.


Namun siapa sangka, Firman Halim dan kakaknya, Yusuf Fadhil itu adalah murid-murid yang cukup berprestasi di sekolahnya.

Selain itu, pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, itu juga aktif dalam organisasi.

Suasana SMP Kreatif Muhammadiyah 18 sendiri sampai dengan kemarin, masih dirundung sedih. Tidak ada aktivitas belajar-mengajar.


Kisah Cinta Dita Oepriarto-Puji Kuswati: Tak Direstui, Mertua Belikan Rumah, Mobil Pemberian Dijual

Seluruh murid diliburkan atas perintah Wali Kota Tri Rismaharini.

Hanya ada staf dan guru yang stand by menerima tamu.

Jawa Pos bertemu Kepala Sekolah Ari Sutikno dan Wali Kelas IX Hafidatur Romla. Keduanya merasa tak percaya siswanya, Firman Halim, terlibat aksi bom bunuh diri sekeluarga.

Keluarga pelaku bom Surabaya
Keluarga pelaku bom Surabaya

Bukan hanya Firman. Sekolah tersebut juga kehilangan Yusuf Fadhil. Kakak Firman itu adalah alumnus sekolah tersebut. Jika Firman kelas IX, Fadhil kelas XI.

Keduanya dikenal akrab dengan guru, staf, dan siswa di sekolah. Tidak ada catatan buruk yang mereka buat.

Sepenggal Kisah Pilu Keluarga Dita-Puji sebelum Serangan Bom Surabaya: Pelukan dan Tangisan

Saat bercerita, Romla berkali-kali mengusap mata dengan kerudung besarnya. Dia berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.

“Sampai sekarang saya tidak menyangka,” kata Romla.

Ari menggambarkan, dua anak laki-laki bomber Dita Oepriarto itu adalah siswa teladan, berprestasi dan aktif berorganisasi.

Firman baru menyelesaikan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

Firman juga pernah menjadi juara I Tapak Suci tingkat SMP Muhammadiyah dan masuk tim inti sepak bola sekolah.

Pengakuan Keluarga Dita Oepriarto Pelaku Bom Surabaya, Merasa Diasingkan Warga!

“Dua-duanya pernah menjadi ketua IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Kalau di sekolah umum seperti OSIS,” ungkap Ari.

Pertemuan terakhir Romla dengan Firman terjadi ketika sekolah mengadakan liburan bersama di Gunung Bromo pada 8-10 Mei lalu.

Alias hanya tiga hari sebelum Firman melakukan aksi bom bunuh diri itu.

Tidak ada yang janggal. Remaja 16 tahun tersebut bersikap seperti bisa. Main dengan teman-teman sekelasnya. Dia juga perhatian pada Romla.

Warga Tegas Tolak Jenasah Teroris Bom Surabaya: Ini Kota Pahlawan, Bukan Kota Teroris!

“Pas kami makan kelapa muda bareng, Firman yang memecahkan kelapanya,” kata Romla.

Firman dikenal sosok yang murah senyum, berkarisma, dan suka menolong. Karena itu, dia disukai.

Bahkan, ada angket yang dibuat guru bimbingan konseling (BK) untuk memilih siswa idola. Firman termasuk salah satu pilihan.

“Ada bukti catatannya. Nama Firman pasti ada. Karena dia itu seperti punya wibawa dan sumeh,” ujarnya.